Snake Awareness, Yayasan Sioux Ular Indonesia Beri Pamahaman tentang Penanganan Ular kepada LPHD Pangalima Jer

Snake Awareness, Yayasan Sioux Ular Indonesia Beri Pamahaman tentang Penanganan Ular kepada LPHD Pangalima Jer

Gusman, Staf BKO Bidang Keamanan LPHD Pangalima Jerrung, mempraktikkan penanganan ular tidak berbisa, ular bajing, saat pelatihan Snake Awareness di objek wisata Taman Sungai Dumaring, pada hari Selasa, 20 Februari 2024. -Sandy AW-Radar Tasikmalaya

BERAU, RADARTASIK.COM – Yayasan Sioux Ular Indonesia (YSUI), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang beranggotakan pencinta Ular yang aktif memberikan edukasi mengenai Ular, termasuk pencegahan, penanganan, dan penyelamatan, memberikan pelatihan Snake Awareness (penyadartahuan tentang Ular) kepada anggota dan pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pangalima Jerrung dan masyarakat Kampung Dumaring.

Pelatihan Snake Awareness ini diselenggarakan oleh Program Kolaborasi Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring, pada hari Selasa, 20 Februari 2024, bertempat di objek wisata Taman Sungai Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Ada tiga trainer dari Yayasan Sioux Ular Indonesia yang dihadirkan dalam pelatihan tersebut. Mereka adalah Yuliadi, Maula Haqul Dafa, dan Piery Efrianto.

Ular merupakan satwa liar yang paling dekat habitatnya dengan manusia. Ular berperan penting dalam keseimbangan ekosistem sebagai pemangsa dan mangsa.

BACA JUGA:LPHD Pangalima Jerrung dan Warga Dumaring Diberi Pemahaman tentang Snake Awareness, P3K, dan Kedaruratan

Yuliadi mengatakan, dilihat dari kondisi lingkungan yang memiliki hutan dan sungai, warga Kampung Dumaring perlu memahami tentang penanganan ular

Menurut Yulliadi, warga Kampung Dumaring, istilahnya, tinggal bersama dengan ular. Di sekitar rumahnya, selalu akan ada ular.

Dalam pelatihan, para trainer menyampaikan tentang empat golongan ular, yakni ular tidak berbisa, ular berbisa menengah, ular berbisa tinggi, dan ular raksasa. Berdasarkan jenisnya, ada sekitar 30-an jenis.

Yuliadi menjelaskan, untuk menangani ular tidak berbisa, berbisa menengah, berbisa tinggi, dan raksasa, perlakuannya berbeda-beda. Yang signifikan perbedaannya adalah untuk ular kecil dan ular raksasa.

BACA JUGA:Melestarikan Hutan Mangrove Dumaring Kabupaten Berau, Warga Dilatih Tata Cara Menanam Pohon Bakau

Untuk menangani ular kecil, sambung dia, jika masyarakat Dumaring tidak mengetahui pasti apakah ular kecil tersebut termasuk jenis ular berbisa atau ular tidak berbisa, mereka harus memperlakukan ular tersebut terlebih dahulu sebagai ular berbisa. Dengan demikian, harus tetap berhati-hati.

Adapun jika bertemu ular raksasa, Yuliadi menjelaskan, ular besar tersebut harus ditangani oleh minimal dua orang. Pasalnya, ular raksasa itu memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibanding ular kecil yang bisa ditangani oleh satu orang. 

Sementara itu, jika bertemu dengan ular berbisa di hutan, seperti kobra atau king kobra, masyarakat bisa memegang prinsip stop. Stop itu maksudnya diam. Masyarakat silent (diam), thinking, lanjut observe, dan prepare. ”Jadi, kita diam. Kita amati dulu ularnya,” ucapnya.  

Kemudian thinking (berpikir), ini jenis ular berbisa atau tidak berbisa. Lihat karakter dan ciri-cirinya. Kemudian observe. Lihat lingkungan sekitar. Misal, mau lari, lari ke arah mana.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: