Lebaran Lesung

Lebaran Lesung

Saat berangkat ke Banyuwangi kemarin lalu-lintas sangat beda. Lancar.

Tidak seperti bulan lalu. Jalur itu saya tempuh 9 jam. Padahal sudah ada jalan tol. Dari Surabaya ke Probolinggo. Tapi dari Probolinggo ke Banyuwangi masih harus lewat jalan lama: yang padat sekali. Harus jadi buntut truk dan truk gandeng yang termehek-mehek. 

Perjalanan kemarin sangat mulus: hanya 5 jam. Hanya tiga kali tertahan truk keong. Mungkin sudah banyak sopir truk yang libur. Mungkin juga kami berangkat sangat pagi: habis Subuh. Pukul 10.00 sudah tiba di Banyuwangi.

Terlalu pagi.

Belum bisa masuk hotel.

Saya pun ingat Pak Iwan. Ia ahli racikan kopi. Ia ahli budaya suku Osing. Ia punya kafe unik. Yang dilengkapi benda-benda budaya Banyuwangi.

"Kafe Pak Iwan buka?" tanya saya lewat telepon.

"Tutup Pak. Karyawan libur Lebaran. Saya sendiri lagi di Bali," jawabnya.

"没问题 谢谢你," tulis saya. Saya bisa memaklumi keadaan itu.

Kami pun bawa cucu-cucu ke pantai Boom. Bisa naik kuda di pantai. Sambil menatap pulau Bali dari arah pantai Banyuwangi.

Tiba-tiba telepon saya menyala. Ada pesan masuk dari Pak Iwan.

"Kami sudah buka kafenya. Ada dua petugas yang bisa menyambut keluarga Pak Dahlan," katanya.

Ups... Luar biasa. 

"Kebetulan kami semua berpuasa. Tidak usah disiapkan makan minum," kata saya, seraya minta maaf telah merepotkannya.

Maka kami pun menuju kafe "Sanggar Genjah Arum" milik Iwan. Lokasinya 9 km dari pantai. Ke arah Gunung Ijen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: