Hati-Hati! Sesar Garsela Masih Aktif, Membentang dari Garut Selatan ke Selatan Bandung, Ini Karakter Gempanya

Hati-Hati! Sesar Garsela Masih Aktif, Membentang dari Garut Selatan ke Selatan Bandung, Ini Karakter Gempanya

Struktur Sesar Garsela memanjang dari selatan Garut ke selatan Bandung. Sumber: dok BMKG--

- Beberapa segmen Cibeber sampai Padalarang (Kabupaten Bandung Barat)

- Segmen Padalarang­ Tangkuban Perahu yang dapat diamati sebagai lembah sungai yang berarah hampir timur-barat dan membelok ke arah timur laut mulai dari Cibeber ke arah timur

Sejarah Panjang Gempa Cianjur

Sejarah panjang gempa Cianjur diungkapkan Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr Daryono.

Menurut Dr Daryono, Kabupaten Cianjur hingga Padalarang merupakan salah satu jalur beberapa sesar yakni Cimandiri hingga sesar Lembang. 

Wilayah Kabupaten Cianjur hingga Padalarang terdata beberapa kali gempa bumi dengan kekuatan rata-rata 5 magnitudo.

Sejarah panjang gempa Cianjur hingga Padalarang pernah tercatat Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Gempa Cianjur hingga Padalarang terdata sepanjang tahun 1844, 1910, 1912, 1968, 1982 dan terakhir kali tahun 2000.

Menurut, Dr Daryono mengatakan, wilayah Sukabumi, Cianjur dan Bandung merupakan wilayah aktif dan kompleks, sehingga sering terjadi gempa.

Sebanyak 5.832 Warga Cianjur Mengungsi, 6.070 Unit Rumah Warga Rusak Berat

Demikian update yang dirilis oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto saat menggelar jumpa pers di Pendopo Cianjur, Selasa, 22 November 2022.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, dari 268 korban meninggal, baru teridentifikasi identitasnya sebanyak 122 Jenazah.

“Selain itu masih ada korban hilang sejumlah 151 orang. Apakah 151 orang ini bagian dari yang 122 belum teridentifikasi itu kami masih lakukan pendataan. Bisa saja yang hilang itu berada didata itu,” kata Letjen TNI Suharyanto.

Mengenai data mayoritas kelompok usia ataupun jenis kelamin yang mendominasi sebagai korban meninggal, Letjen TNI Suharyanto belum dapat memberikan data pasti mengingat masih terus melakukan pendataan.

“Memang yang banyak meninggal itu anak-anak karena saat kejadian tengah mengaji, tetapi kami belum bisa menjawab pasti mengenai jumlah dan klasifikasi lainnya,” ujar Letjen TNI Suharyanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: