Penyesalan Panggung

Penyesalan Panggung

Duka untuk sepak bola Indonesia, tragedi Kanjuruan jangan terulang lagi.-Ilustrasi: Syaiful Amri-Disway.id-

ErGham

Abah pasti fanatik pada klub sepakbola Persebaya. Tapi stadionnya aman gak, Abah? Abah bisa cek juga. Apakah pintunya cukup lebar dan tangga jangan terlalu curam. Tangkap arsiteknya jika salah desain. Hehehehe... 

PryadiSatriana

Bung Lukman, itu ungkapan kiasan. Orang ygsdh 'almarhum' tidak berfungsi lagi sbg manusia. Stadion yg 'almarhum' jg begitu, sudah ndhak berfungsi sebagai stadion lagi. Banyak orang yg 'nalarnya bengkok', ndhak konsisten dlmbernalar. Paham nabi Muhammad disebut sebagai 'kekasih Allah' tapi ndhak paham Yesus disebut 'Anak Allah' padahal Yesus disebut 'Firman Allah' (Alkitab) atau 'kalimatullah' (Al-Qur'an). 'Firman Allah' itu, 'yang ke luar dari Allah' (proceeds from the Father) itu 'digerakkan' oleh Roh Allah, yg disebut Roh Kudus. Jadi, the Father (Bapa), the Son ('Firman Allah'/'kalimatullah' yang 'nuzul' menjadi Yesus Juru Selamat/ Isa Al-Masih), dan 'Roh Allah' (yg disebut Roh Kudus) itu yg disebut Allah tri-Tunggal, Allah Yang Esa, yg disebutkan oleh Musa dalam Taurat,"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!"(Ulangan 6: 4). Paham Allah triTunggal didasarkan pada,"Sesudahdibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia (Yesus) melihat Roh Allah (Roh Kudus) spt burung merpati turun ke atasNya (Yesus), lalu terdengarlah suara dari sorgayg mengatakan: "Inilah AnakKuygKukasihi, kepadaNyalah Aku (Bapa) berkenan" (Matius 3: 16-17) dan "Aku (Yesus, 'Firman Allah'/'kalimatullah') dan Bapa (Allah) adalah satu" (Yohanes 10: 30). Jadi, orang Yahudi & orang Kristen mengimani Allah yang esa, Yesus adalah FirmanNya, dan Roh Kudus adalah RohNya. Salam. Rahayu.

GiantoKwee

Juga kalimat penutup tentang Pohon dan Mobil, Error dan Keblinger, Mumpung ada pak Pry yang mulai, Kang Dahlan kita "Kruyuk"

Ghost It Is

Saya kemarin bilang. Tim independen sedang melawan posisi sebagian dari anggota kepolisian, tidak seluruh. Opening kasus ini saja sudah aneh. Penonton mulai anarkis. Ini belum ada korban tewas mungkin. Baru di bantai dengan gas air mata setelah itu. Kalaupun ada 200-400 botol miras di sana. Itukan salah petugas. Nha, kenapa nggak jaga pintu keluar masuk. Malah bawa pentungan sama gas air mata di tengah lapangan. Mau makan gaji buta apa, cuma pamer seragam di tengah lapangan. Setahu Saya botol itupun tersegel. Tidak di minum. Kadar alkoholnya juga tidak di sebut.

DodikWiratmojo

dan bukti2pun pun agak melenceng, ditemukan botol miras, pdhl bawa korek ajaga bisa masuk, pihak aremaga diajak, presuden hanya menyebut pintu terkunci tangga menurun, gas air mata ga disebut sbg pemicu..truspyki.. .. Fanatisme Sepakbolapaseduluransaklawase...

Macca Madinah

Lucu juga perumpamaan mobil itu harus "pernah nyenggol", apa itu kelasnya dinding atau pohon. Suka gemes soalnya kalau di jalan "gang" kecil di Jakarta. Sudah jelas jalannya kecil, yang masuk mobilnya sebesar bagong, sekelas fortuner, landrover,, dan sejenisnya. Mending kalau yang menyetir itu pede, gak masalah kalau "nyenggoldikit" gores dikit. Berhubung mungkin yang menyetir bukan yang empunyanya, jalannya pelannnn, sedikit-sedikit injak rem, lihat sepeda motor-angkot-bajajnyalip langsung berhenti ngalangin yang di belakang (baca: ya saya itu). Wesss, nekwedhingonoyoojo lewat kene Pak-eeee (kadang-kadang ada juga Buk-eeee)!

Liam Then

Tadi pagi juga merasakaan hal serupa. Kok pohon? Berhubung blomngopi otak masih berkabut. Sekarang mumpung lagi gabut-gak ada buat ( dah lama saya kira gabut itu singkatan gak ada buat- rupanya bukan kwkwkwkw), di temani secangkir kopi tubruk non gula, baru enak mikirnya. Hidup pohon kok ya dijadikan perbandingan. Karena berangkat dari pengertian awal , derajat hidup manusia lebih tinggi darinya. Sebenarnya manusia bisa belajar falsafah hidup dari pohon, ia tak peduli angin hujan, tetap hidup. Tak peduli siang malam tetap berusaha hidup. Tak peduli berapa lama ia hidup. Ia alot,ulet,tekun, hanya untuk hidup. Ia tegak hidup, gak merasa marah, merasa sedih. Ia hidup dibawah bintang, cahaya matahari, cahaya bulan, semilir angin. Kondisi apapun ,tak oernah mengeluh. Tetap hidup. Ia hidup tanpa perlu sesuatu untuk membuat ia lebih hidup. Tujuannya hanya hidup. Bukankah sangat sederhana? Bayangkan betapa banyak konflik tak perlu, jika manusia belajar dari falsafah pohon? Jika anda ada merasa cabang pemikiran lain, karena banyaknya kata hidup di atas. Gapapa, berarti anda masih normal. Terus terang saya juga begitu.

Johan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: