Perempuan dan Organisasi
Susan Nurhayati, S.Pd.I., M.Pd, Dosen IAILM Suryalaya.--
BACA JUGA:Komisi I DPRD: Jabatan Kosong di Kelurahan dan Kecamatan Kota Tasikmalaya Harus Cepat Diisi
Perempuan kini banyak menduduki berbagai posisi penting dalam organisasi, baik di sektor pemerintahan, swasta, pendidikan, hingga organisasi masyarakat sipil.
Mereka menjadi pemimpin, penggerak komunitas, pengambil keputusan, hingga agen perubahan. Kepekaan sosial, kemampuan komunikasi, dan pendekatan yang lebih empatik menjadi kekuatan tersendiri yang dibawa perempuan dalam dinamika organisasi.
Tak jarang pula, perempuan menjadi penghubung antara organisasi dan masyarakat luas, terutama dalam isu-isu pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
Peran ini menunjukkan bahwa kehadiran perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan kunci keberhasilan sebuah organisasi.
BACA JUGA:Pemkot Tasikmalaya Kaji Pengiriman Siswa Bermasalah ke Barak Militer
Tantangan yang Masih Dihadapi
Tokoh Perempuan sunda di Jawa Barat yaitu Dewi Sartika yang dikenal sebagai pendiri organisasi ”sakola istri” pada tahun 1904 yang menjadi cikal bakal dalam mengembangkan peran perempuan melalui jalur pendidikan di Jawa Barat.
Dewi Sartika sangat menginspirasi saya sebagai warga Tasikmalaya untuk mendirikan ”Sekolah Ibu” sebagai wadah bagi para perempuan tasikmalaya untuk bisa menambah wawasan dan pengetahuan terkait tugas dan tanggung jawabnya sebagai perempuan.
Meski kemajuan telah dicapai, Namun di balik semangat tersebut, organisasi perempuan sering menghadapi sejumlah tantangan yang kompleks.
BACA JUGA:Laporan Unik ke Damkar Kota Tasikmalaya: Evakuasi Tokek, Mobil Nyangkut, hingga Cincin Macet
Hal ini menghambat upaya pemberdayaan dan pengembangan kapasitas anggota organisasi, terutama di daerah-daerah terpencil, Beberapa tantangan yang dihadapi di antaranya meliputi:
• Stereotip Gender: Masih banyak yang menganggap perempuan kurang kompeten dalam memimpin atau mengambil keputusan penting.
• Tanggung Jawab Ganda: Perempuan sering kali harus membagi waktu antara tugas organisasi dan tanggung jawab domestik, terutama dalam keluarga.
• Akses Terbatas terhadap Peluang: Tidak semua perempuan memiliki akses yang sama terhadap pelatihan, promosi jabatan, atau jaringan profesional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: