Cadaver Plus

Cadaver Plus

Hermawan Kartajaya menyerahkan buku Marketing 5.0 kepada Dekan FK Unair Budi Santoso.-Boy Slamet-Harian Disway---

Hermawan itu guru sejati. Guru modern. Guru yang menciptakan kurikulumnya sendiri. Ia memang pernah menjadi profesional di perusahaan besar. Sampai jadi level direktur di perusahaan sebesar Sampoerna. Ia tidak tahan. Ia berhenti. Ia pamit untuk jadi guru lagi: guru marketing.

Putra Sampoerna, pemilik pabrik rokok Dji Sam Soe itu, sampai heran. Gaji di Sampoerna kan besar. Mengapa berani berspekulasi untuk mencoba jadi guru marketing. Belum jelas pula pasar ya. Ketika Hermawan akhirnya mendirikan MarkPlus, ia diejek pakai bahasa Suroboyoan: mak ples. Artinya: tiba-tiba meredup untuk kemudian padam.

Hermawan awalnya memang guru matematika di SMP swasta Sasana Bhakti di Jalan Jagalan. Ayahnya pengurus sekolah di tempat lain. Ibunya guru. Lalu Hermawan mengajar di SMA St Louis Surabaya. Orang seperti menteri Ignatius Jonan, konglomerat Harry Tanoesoedibyo dan Kepala Pajak Jatim Prof John Hutagaol adalah murid-muridnya di St Louis.

Hermawan bukan sarjana. Ia pernah kuliah di ITS jurusan elektro. Sudah hampir selesai. Tapi ia berhenti. Ia bekerja. Ia memberi les matematika pada banyak sekali anak-anak. Ia perlu uang. Ia tergolong keluarga miskin di Jalan Kapasari Gg V Surabaya. Kampung itu tidak jauh dari Stadion 10 November Tambaksari. Saya ikut Hermawan ke rumah di gang sempit itu Jumat lalu. Ia bernostalgia di rumah yang sudah dijual ke orang lain dan orang lain itu sudah menjual pula ke lainnya lagi.

Hermawan pandai menulis. Tulisannya hidup. Topiknya selalu soal marketing yang praktis. Ia jadi solusi bagi kesulitan banyak perusahaan atau manager marketing di perusahaan itu.

Dulu, saya memintanya untuk menulis di Jawa Pos. Secara rutin. Tiap hari Rabu. Waktu itu saya perlu menaikkan gengsi Jawa Pos dengan menampilkan penulis terkenal dari kalangan pengusaha Tionghoa. Hermawan menyambut antusias tawaran saya itu. Ia merasa mendapat panggung besar. Maka antara Jawa Pos dan Hermawan seperti joki dan kuda. Bergantian siapa yang jadi Joki dan siapa yang menjadi kuda.

Orangnya disiplin.

Tulisannya tidak pernah absen di hari yang ditentukan. Pun ketika ia di luar kota. Atau dalam penerbangan jauh. Pernah ia menulis di atas pesawat. Pakai tulisan tangan. Sampai di bandara tujuan tulisan itu dikirim pakai faksimile. Ia gigih seperti wartawan profesional. Ia memegang teguh deadline. Padahal belum ada email saat itu. Belum ada modem. Apalagi HP.

Hermawan itu sama: tulisannya sebagus omongannya. Dan sebaliknya. Ada orang pandai menulis tapi tidak pandai bicara. Atau pandai bicara tapi tidak pandai menulis. Hermawan jago di dua-duanya.

Maka tidak heran kalau Hermawan menerbitkan banyak buku. Sudah lebih 50 buku. Yakni buku marketing. Laris semua. Ada yang beredar secara global. Yakni yang ia tulis bersama Philip Kotler, maha guru marketing dunia. Bukunya bersama Prof Kotler sampai 9 judul. Prof Kotler, mahaguru dari North Western University Chicago mengakui kemampuan Hermawan. Salah satu buku terlaris Kotler-Hermawan adalah Reposition Asia: From Bubble to Sustainable. Yang tahun lalu laris di Amerika adalah Technology for Humanity. 

Hermawan itu guru marketing. Konsultan marketing. Penulis buku marketing. Pembicara seminar marketing. Ketua organisasi marketing –tingkat Indonesia, Asia, lantas dunia. Apa saja dilihat Hermawan dari sudut marketing.

Saya ketularan gila marketing.

Suatu saat saya bertanya kepada anak saya yang lagi kuliah di Sacramento, California.

"Anda ambil jurusan apa?"

“Manajemen, " jawab anak saya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber:

Berita Terkait