PPDS Inovasi Cegah Stunting, Remaja Diberi Pelatihan Pengolahan Ikan Air Tawar Menjadi Tepung

PPDS Inovasi Cegah Stunting, Remaja Diberi Pelatihan Pengolahan Ikan Air Tawar Menjadi Tepung

radartasik.com, RADAR TASIK - Pertengahan tahun 2021, Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Open Data Kota Tasikmalaya merilis angka jumlah balita stunting yang tersebar di 22 puskesmas, sebanyak 7.731 orang.


Hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) selama tahun 2021, ada penurunan prevalensi angka stunting di Indonesia dari 27,67 persen di tahun 2019 menjadi 24,40 persen pada tahun 2021.

Penurunan ini terjadi sejak terbitnya Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Sehingga berbagai langkah strategis dan inovasi pun dilakukan. Salah satunya program inovasi yang dilaksanakan oleh Poltekes Kemenkes Tasikmalaya bekerjasama dengan Poltekes Kemenkes Bengkulu, juga Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Inovasi tersebut melalui Program Pengembangan Desa Sehat “Pendampingan Remaja Siap Usia Menikah Melalui Pemberdayaan Masyarakat Dalam 1.000 Hari Pertama Kelahiran, untuk Menuunkan Angka Stunting di Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya dan Kecamatan Ratuagung Kota Bengkulu”.

Ketua Tim Program Pengembangan Desa Sehat (PPDS) Dr Hj Adit Tajmiati SKep Ners MPd menuturkan bahwa inovasi ini diharapkan dapat menurunkan angka stunting di Kota Tasikmalaya. Program pemberdayaan masyarakat ini, kata Atit, dilakukan melalui pelatihan pengolahan ikan air tawar menjadi tepung. Sehingga tepung tersebut dapat diolah untuk berbagai makanan sebagai asupan gizi yang baik.

“Kenapa sasarannya remaja usia menikah? Agar asupan gizi dapat dipersiapkan sejak dini. Sehingga ketika remaja-remaja tersebut menikah, maka asupan gizinya sudah baik. Sehingga pada saat hamil pun tidak mengalami kekurangan gizi. Selain itu melalui pemberdayaan ini, kita pun berharap bisa membentuk wirausaha baru bidang olahan pangan berbahan ikan. Sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Kecamatan Bungursari yaitu perikanan,” ungkapnya, Kamis (17/3/2022).

Pelatihan pengolahan ikan akan dilaksanakan selama enam hari dimulai dari Kamis (17/3/2022) sampai dengan Kamis (24/3/2022).

Materi pelatihan dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu teori dan praktik pengolahan ikan menjadi tepung yang kemudian diolah menjadi makanan. Setelah itu peserta pelatihan akan didampingi dan dimonitor pasca pelatihan. Peserta pelatihan pun diberi berbagai peralatan yang dapat digunakan untuk usaha pengolahan ikan menjadi tepung ikan.

“Peralatan yang kita berikan untuk kelompok satu paket. Sehingga nanti ke depannya dapat digunakan untuk keberlangsungn usaha mereka,” tegasnya.

Direktur Penyediaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Dra Oos Fatimah Rosyati MKes menyampaikan bahwa kegiatan program desa sehat kerja sama Poltekes Kemenkes Tasikmalaya dan Poltekes Kemenkes Bengkulu juga pemerintah daerah di masing-masing-masing-masing wilayah.

Program Pengembangan Desa Sehat merupakan salah satu upaya langkah nyata bagi pemerintah dan setiap sektor untuk menggerakkan perubahan di bidang kesehatan.

RPJMN 2020-2024 memiliki tujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu, anak, KB dan kesehatan reproduksi. Mempercepat perbaikan gizi masyarakat dan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas).

“Enam pilar langkah transformasi kesehatan, pertama transformasi layanan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi sistem pembiayaan kesehatan, transformasi SDM kesehatan dan transformasi teknologi kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, hari pertama pelatihan, diisi dengan materi yang disampaikan oleh Kepala Puskesmas Sukalaksana Kecamatan Bungursari dr Budi Nugraha MMKes tentang Kesehatan Reproduksi dan Pendidikan Seksual. Juga materi dari Kepala Puskesmas Bungursari dr Eko Anggoro Sulistyaji tentang Gizi Sehat, Stunting dan Pencegahannya.Selain itu peserta pun dibekali dengan materi tentang Persiapan Kehamilan Sehat oleh Sinar Pertiwi SST MPH.

Mengulas tentang stunting, dr Eko menyampaikan bahwa stunting pada anak dapat berdampak jangka panjang. Seperti perawakan anak yang pendek dan tidak berkembang, kerusakan struktur dan gangguan fungsi otak, termasuk gangguan kognitif yang permanen.

“Sehingga asupan gizi yang baik, harus diberikan sejak saat ini pada usia-usia produktif. Juga pada saat 1.000 hari pertama kelahiran, asupan gizi pada anak harus betul-betul diperhatikan,” ujarnya pada saat menyampaikan materi pelatihan.

Pelatihan hari kedua dilaksanakan Jumat (18/3/2022) dengan materi dari perwakilan Kementrian Agama Kota Tasikmalaya, dari KUA Bungursari, Haerusalik SPdI dengan materi Persiapan Pernikahan Kokoh Menuju Keluarga Sakinah. Juga materi dari ketua tim Dr Hj Adit Tajmiati SKep Ners MPd tentang Persiapan fisik, Psikologis Calon Pengantin.

Sementara itu acara pembukaan Program Pengembangan Desa Sehat yang dihadiri oleh Direktur Poltekes Kemenkes Tasikmalaya Hj Ani Radiati SPd MKes, Direktur Penyediaan Tenaga Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Dra Oos Fatimah Rosyati MKes, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr H Uus Supangat, serta tamu undangan dari berbagai stakeholder, bertempat di Aula Kecamatan Bungursari, yang dilaksanakan secara offline dan online melalui sambungan Zoom meeting. (tin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: