Merancang Pembelajaran Terdiferensiasi: Antara Tantangan dan Harapan

Merancang Pembelajaran Terdiferensiasi: Antara Tantangan dan Harapan

Abdullah Mufti Nurhabib, M.Pd.I., Pendidik di SMPIT Daarul Anba Kota Tasikmalaya. istimewa for radartasik.com--

BACA JUGA:Banyak Sekolah di Tasikmalaya Masih Rusak, Kata Disdikbud: Sudah Diajukan ke Pusat

Asesmen formatif digunakan untuk memahami perkembangan siswa, bukan hanya menilai hasil akhir. 

Refleksi siswa, jurnal belajar, atau proyek kecil juga bisa menjadi cermin berharga bagi guru.

Kelima, membangun mindset tumbuh (growth mindset). 

Percayalah bahwa setiap anak bisa belajar, hanya cara dan kecepatannya yang berbeda. 

BACA JUGA:SPPG Gunung Tandala Hadirkan Inovasi Distribusi Efisien Program MBG di Kota Tasikmalaya

Guru juga perlu menumbuhkan mindset yang sama untuk dirinya: belajar dari proses, bukan hanya mengejar hasil.

Keenam, berkolaborasi dan saling belajar antar guru. 

Diskusi dengan rekan sejawat, kolaborasi lintas mata pelajaran, dan dukungan dari pimpinan sekolah akan memperkuat semangat dalam menerapkan diferensiasi.

Ketujuh, mari mulai dari langkah kecil namun konsisten. 

BACA JUGA:Peran Besar Kader Posyandu di Balik Sukses Program Makanan Bergizi Gratis Kota Tasikmalaya

Tidak perlu menunggu sempurna. Mulailah dari satu aspek diferensiasi, evaluasi hasilnya, lalu kembangkan secara bertahap.

Merancang pembelajaran terdiferensiasi sejatinya adalah proses menjadi guru yang lebih manusiawi.

Seorang guru yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi memahami bahwa setiap anak punya cara, waktu, dan jalan sendiri untuk tumbuh.

Ketika guru berani melihat keberagaman sebagai anugerah, dan menjadikannya dasar dalam merancang pembelajaran, di situlah nilai sejati pendidikan berpihak pada murid. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: