KULON PROGO, RADARTASIK.COM – DIY rawan gempa dan tsunami, sehingga kesiapsiagaan masyarakat perlu terus diperkuat.
Hal ini ditegaskan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat membuka Sekolah Lapang Gempa bumi dan Tsunami (SLG) di Kulon Progo PADA Selasa 23 September 2025.
Menurut dia, wilayah selatan DIY memiliki tingkat aktivitas seismik yang tinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
Pada periode itu tercatat lebih dari seratus gempa dengan magnitudo di atas 5, dua kejadian menimbulkan kerusakan dan puluhan guncangan dirasakan masyarakat.
BACA JUGA: Dukung Timnas Indonesia, Jadwal Laga Pekan Ke-8 Ditunda, Ini Jadwal Lengkap Pekan Ke-7 Super League
BACA JUGA: Hari Tani Nasional, Wali Kota Tasikmalaya Dorong Pertanian Mandiri dan Berdaya Saing
Berdasarkan peta PUSGEN 2017, potensi gempa megathrust di selatan Jawa bahkan bisa mencapai magnitudo 8.8 yang berpotensi memicu tsunami besar.
Dia menekankan ancaman ini nyata dan dapat terjadi tanpa peringatan. Karena itu, kesiapsiagaan harus terus diperkuat. SLG disebut sebagai bentuk nyata kepedulian negara dalam melindungi keselamatan warga dari bencana gempa dan tsunami.
Kulon Progo sebagai Wilayah Strategis
Dwikorita menjelaskan Kulon Progo memiliki posisi penting. Selain rawan bencana, daerah ini menjadi pintu gerbang wisata Yogyakarta karena adanya Yogyakarta International Airport (YIA).
BACA JUGA: Bunga Deposito Valas Naik, BTN Antisipasi Peningkatan Dana Luar Negeri
Bandara ini menjadi satu-satunya di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, yang sejak awal dirancang untuk menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami.
Kata dia, keberadaan YIA adalah simbol kesiapsiagaan bencana. Dengan desain khusus itu, Kulon Progo contoh ketangguhan bencana.
Ketangguhan ini diharapkan mampu meningkatkan rasa aman masyarakat sekaligus menumbuhkan kepercayaan wisatawan dan investor.
Dwikorita berharap SLG di Kulon Progo menjadi momentum memperkuat kapasitas daerah menghadapi bencana.