Segera Beroperasi Stasiun Pengisian Hidrogen Pertama di Indonesia, PLN Produksi Kendaraan Listrik Hidrogen

Segera Beroperasi Stasiun Pengisian Hidrogen Pertama di Indonesia, PLN Produksi Kendaraan Listrik Hidrogen

Stasiun pengisian hidrogen pertama di Indonesia segera beroperasi. PT PLN akan produksi kendaraan listrik berbasis hidrogen.-PT PLN-

”Ini menjadi bukti, we walk the talk bahwa komitmen ini kami wujudkan dalam bentuk nyata. Tidak hanya infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik, kami juga siap menghadirkan hydrogen refueling station pertama di Indonesia sebagai opsi energi yang ramah lingkungan bagi kendaraan,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya.

Dia mengemukakan pengembangan rantai pasok hidrogen hijau sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Artinya, beralih dari BBM yang mayoritas berbasis impor ke green hydrogen yang diproduksi di dalam negeri.

BACA JUGA: INTIP! Spesifikasi Nokia C200 Pro 5G 2024 dengan Harga Murah

Berdasarkan kalkulasi PLN, bahan bakar green hydrogen yang dihasilkan dari sisa operasional pembangkit sangat kompetitif bila dibanding dengan BBM.

Perbandingannya, mobil BBM membutuhkan biaya Rp 1.400 per 1 kilometer. Sedangkan mobil listrik membutuhkan Rp 370 per km. Mobil listrik hidrogen butuh Rp 350 per km.

Dengan demikian, tambah dia, transisi energi ini tidak hanya mengurangi penggunaan energi beremisi tinggi di sektor transportasi namun juga beralih ke energi yang ramah lingkungan dan harga yang jauh lebih murah.

Darmawan memaparkan HRS Senayan akan semakin strategis karena di sana juga dibangun charger kendaraan listrik berbasis hidrogen yang memiliki fungsi sama dengan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

BACA JUGA: Kamera depan 32 MP Nokia C200 Pro 5G 2024 dan Layar Super AMOLED Cek di Sini Harganya

Di HRS Senayan juga dibangun Hydrogen Center dan Hydrogen Gallery Room sebagai pusat pelatihan dan pendidikan terkait hidrogen di Indonesia.

Saat ini PLN bisa memproduksi 199 ton green hydrogen. Dari total produksi tersebut, PLN menggunakan 75 ton untuk kebutuhan operasional pembangkit lsitrik. Sementara sisinya 124 ton bisa digunakan untuk kebutuhan lain.

Jumlah tersebut bisa digunakan untuk melayani 424 unit cell electric vehicle sehingga dapat menghemat impor BBM sekitar 1,55 juta liter per tahun juga menurunkan emisi karbon hingga 3,72 juta kg CO2 per tahun.

Untuk menjalankan program ini, perusahaan BUMN kelistrikan ini telah berkolaborasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Indonesia Fuel Cell and Hydrogen Energy (IFHE).

BACA JUGA: Identitas Jasad Pria Bertato yang Ngambang di Situ Gede Tasikmalaya Terungkap, Ternyata ...

Dalam perjalanan panjang transisi energi ini, kata dia, PLN tidak bisa berjalan sendirian. Satu-satunya cara untuk tetap maju adalah dengan kolaborasi karena apa pun tantangannya tetap harus berjuang agar bumi menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: