Praktisi ITB Latih Petani Guranteng Cara Mengolah Kopi Spesial

Praktisi ITB Latih Petani Guranteng Cara Mengolah Kopi Spesial

PELATIHAN. Masyarakat petani kopi Desa Guranteng Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Praktisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Desa Binaan Tim kopi 0 (nol) kilometer di bukit gunung jugul.-dokumen Radar-

“Kalau dilihat, ketika panen kopi, rata-rata petani kopi di sini langsung ditarik paksa. Jadi bercampur antara yang ceri merah, hijau bahkan baru mendengar istilahnya kopi pulung. Tapi agar tetap bisa dijual, itu yang belum matang direbus terlebih dahulu, lalu dijual secara murah,” tanbahnya.

BACA JUGA:Jumlah Kasus Kekerasan Seksual di Kabupaten Tasikmalaya Terus Naik, Berikut Ini Jumlah Per Tahunnya

Menurut dia, ketika mendengar cerita dari teman-teman yang ada di sini, harganya itu hanya sampai Rp 22-25 ribu per kilogram. 

Jika masuk ke daerah Bandung Raya, teman-teman petani kopi bisa sampai Rp 90 ribu per kilogram.

“Kalau disebut euforia memang memiliki keunikan. Kami sendiri melihat langsung ke lapangan jenis-jenis robusta yang dihasilkan,” ujarnya. 

“Sebetulnya potensinya luar biasa dan kami juga biasa dari ITB bukan kali pertama, sebelumnya juga di Kabupaten Bandung di 0 km Citarum sudah mencoba menstimulasi dan memang hari ini pun contoh suksesnya dibawa ke sini bisa berbagi dengan petani kopi yang ada di Desa Guranteng,” bebernya.

Kepala Desa Guranteng Endang Bahrum menyebutkan, selaku pemritahan desa mengucapkan syukur dan terima kasih kepada tim ITB dalam hal ini diprakarsai oleh Dr Husna yang sudah kedua kalinya datang ke Guranteng. 

“Awalnya dia mengadakan pelatihan bagi pemuda milenial berupa sekolah literasi digital desa. Sekarang temanya adalah kopi nusantara. Kami sangat bersyukur di saat masyarakat petani kopi yang juga ada pemuda milenial yang belajar kopi hari ini sudah bisa terjawab keinginan mereka,” ujarnya.

Selama ini petani kopi di Guranteng masih bersifat tradisional. Jadi belum ada edukasi bagaimana memilih kopi yang baik, memanen dan menanam yang baik. 

Pelatihan selama dua hari  memang tidak cukup karena butuh waktu satu pekan untuk menjadikan para peserta ini betul-betul mahir untuk bidang kopi. 

“Kemarin sudah dikenalkan bagaimana memilih kopi yang baik, lahan yang baik, cara memanen, memilah sampai sekarang sedang dilakukan peroastingan. Jadi masyarakat petani kopi di Guranteng khususnya kali pertama mereka untuk kegiatan pelatihan ini,” ujar dia. 

“Tentu saja ini sangat membantu para petani untuk meningkatkan pendapatannya. Tadi hanya Rp 25 ribu per kilogram, sementara dengan cara atau langkah yang tepat, keuntungan petani akan lebih meningkat,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: