Butuh 58 Ribu Dosis Vaksin Penyakit Mulut dan Kuku Hewan, Kabupaten Tasikmalaya Masih Menunggu Kiriman

Butuh 58 Ribu Dosis Vaksin Penyakit Mulut dan Kuku Hewan, Kabupaten Tasikmalaya Masih Menunggu Kiriman

Penjual daging di Singaparna Kabupaten Tasikmalaya saat melayani pembeli. Foto: ujang nandar / radartasik.disway.id--

Radartasik, TASIKMALAYA – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Tasikmalaya hingga saat ini masih menunggu kiriman vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Tasikmalaya, Heri Kusdiana, mengatakan, hingga kini pihaknya masih menunggu pasokan vaksin PMK dari pemerintah Provinsi Jawa Barat. 

Sebelumnya ia telah mengajukan sebanyak 58 ribu dosis vaksin PMK. Itu sesuai kebutuhan jumlah populasi sapi di Kabupaten Tasikmalaya. 

"Jadi sekitar 58 ribu dosis vaksin yang kami butuhkan. Kita masih menunggu pasokan. Jika tidak ada halangan, sore ini atau besok datangnya," katanya kepada radartasik.disway.id Kamis (23/6/2022)

Menurut dia, vaksin itu masih belum datang karena stok dosisnya terbatas, meskipun begitu pihaknya tetap menginginkan secepatnya vaksin PMK itu. 

"Harapan kami kali bisa sebelum hari Raya Idul Adha bisa dilaksanakan," kata Heri.  

Sementara, pasca merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK),  para pedagang daging sapi di Pasar Singaparna Kabupaten Tasikmalaya kini terkena dampaknya. 

Mereka mengeluh kehilangan omzet penjualan hingga 50 persen akibat pembeli yang menurun drastis. 

Bahkan kini pedagang hanya memotong satu ekor sapi setiap 3 hari sekali, dari biasanya 2 ekor per hari jualan. 

Salah seorang pedagang daging sapi, Tayat mengaku, mereka kesulitan menjual daging sapi akibat konsumen menurun drastis. Bahkan omzet jualannya turun hingga 50 persen dari sebelum wabah PMK merebak. 

Akhirnya ia hanya memotong satu ekor dari biasanya dua ekor sapi per harinya. Itu pun daging sapinya tidak langsung habis terjual dalam sehari, melainkan bisa sampai tiga hari jualan.  

"Waduh pak, terasa banget dampaknya. Bahkan penjualan turun hampir 50 persen. Kalau untuk harga, kini masih stabil ada di Rp 130.000 per kilogram," kata Tayat.

Bahkan bagian jeroan sapi hampir tidak pernah laku. Hal tersebut karena konsumen ketakutan sapi yang dijual terjangkit PMK.

Meski ia selalu menjelaskan jika daging dan jeroan yang dijualnya dari sapi yang kondisinya sehat.  

Sumber: