Langit, Kompas, dan Sebuah Ijtihad
Makam KH Ahmad Dahlan di Karangkajen Yogjakarta. istimewa for radartasik.com--
BACA JUGA:BJB Dukung Program 3 Juta Rumah, Perluas Akses Hunian Layak di Jawa Barat
Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh.
Maka, di sekolah-sekolah yang beliau dirikan, ajaran ilmu falak disandingkan dengan pelajaran tafsir dan fikih.
Santri tidak hanya diajarkan cara membaca Alquran, tetapi juga cara membaca alam.
Mereka belajar mengukur bayangan matahari untuk menentukan waktu shalat, menghitung posisi bulan untuk mengetahui awal Ramadan, dan menatap bintang untuk memahami arah kiblat.
BACA JUGA:Pelaku Penusukan di Argasari Tasikmalaya Diamankan, Polisi Masih Lakukan Pemeriksaan
Dengan cara itu, KH. Ahmad Dahlan menghidupkan kembali tradisi ilmiah Islam.
Tradisi yang pernah berjaya di masa al-Battani, al-Biruni, dan Ibnu Syatir, lalu menjadikannya relevan di bumi Nusantara.
KH. Ahmad Dahlan tidak berjalan sendirian.
Di sekelilingnya tumbuh lingkaran murid-murid yang kelak menjadi penerus perjuangan.
Ada KH. Fachruddin, yang dikenal telaten dalam perhitungan waktu shalat dan arah kiblat.
Ada KH. Mas Mansur, seorang pemikir cemerlang yang memperluas pemakaian hisab dalam penentuan awal bulan.
Ada pula para kader muda yang kelak mendirikan lembaga hisab dan rukyat Muhammadiyah di berbagai daerah dan kemudian diwadahi dalam Majelis Tarjih.
Mereka tidak hanya melanjutkan ilmu falak secara teknis, tetapi juga mewarisi semangat ijtihad dan keberanian berpikir.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: