Langit, Kompas, dan Sebuah Ijtihad
Makam KH Ahmad Dahlan di Karangkajen Yogjakarta. istimewa for radartasik.com--
BACA JUGA:Nongkrong Bareng Berujung Maut, Pria di Tasikmalaya Tewas Ditusuk Teman
Dari sinilah lahir tradisi hisab Muhammadiyah yang terus berkembang.
Dari perhitungan sederhana dengan tabel astronomi, hingga sistem kalender global yang kini dikenal sebagai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
KH. Ahmad Dahlan memang telah wafat pada hari Senin, 23 Februari 1923 M, bertepatan dengan 7 Rajab 1341 H, namun ruh keilmuannya tidak pernah padam.
Dari tempat peristirahatannya di Karangkajen, bagian selatan Kota Yogyakarta, seakan mengalir pesan abadi: Teruslah belajar, teruslah bergerak, dan jangan berhenti memperbarui diri dalam cahaya Al-Quran”.
BACA JUGA:Link DANA Kaget 2025: Cara Dapat Saldo DANA Gratis Tanpa Ribet
Ia hidup di setiap sekolah, madrasah, dan kampus Muhammadiyah, di setiap observasi hilal, di setiap pelajaran falak yang disampaikan dengan penuh kesungguhan.
Langit Sebagai Cermin Jiwa
Bayangkan jika malam itu kita duduk di samping beliau, menatap bulan sabit yang baru muncul di langit Yogyakarta.
Kita akan mendengar suaranya yang lembut tapi penuh keyakinan, Lihatlah, semua benda langit berjalan dengan teratur.
BACA JUGA:Berburu DANA Kaget untuk Dapat Saldo DANA Gratis Rp231.000
Begitulah seharusnya hidup seorang mukmin. Teratur dalam ibadah, terukur dalam amal, dan terarah kepada Allah.
Begitulah KH. Ahmad Dahlan memahami ilmu falak.
Bukan hanya untuk mengatur arah kiblat atau menentukan awal bulan, tapi untuk menata arah kehidupan.
Falak menjadi simbol keteraturan, hisab menjadi lambang ketelitian, dan astronomi menjadi jendela untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: