Secara sederhana, sesar merupakan retakan di kerak bumi yang memungkinkan batuan bergerak saling bergeser. Ada sesar yang tetap aktif sehingga berpotensi menimbulkan gempa. WJBT adalah salah satunya.
BACA JUGA: 42 Minimarket Ilegal di Kabupaten Tasikmalaya Belum Ditertibkan, FPER Kritik Pemkab
BACA JUGA: Pimpinan Rumah Tahfidz di Tasikmalaya Terbukti Asusila! Divonis 15 Tahun Penjara
Hasil penelitian tahun 2022 memperlihatkan jalur WJBT membentang dari utara Jawa Barat hingga selatan Jakarta.
Karena aktif, wilayah yang dilalui sesar ini dianggap rawan gempa. Walau tidak selalu besar, aktivitasnya cukup sering terdeteksi.
Jejak Aktivitas Gempa
Aktivitas sesar ini sebenarnya sudah terdeteksi sebelum gempa Bekasi magnitudo 4,7. Pada 14 Juli 2025, Cikarang sempat diguncang gempa dengan kekuatan 2,6.
Laporan riset Pusat Riset Kebencanaan BRIN bersama sejumlah lembaga mencatat 15 kali gempa dengan magnitudo 2-4 sejak Desember 2022 hingga September 2023.
Gempa-gempa kecil itu muncul di selatan Purwakarta, Karawang, dan Subang. Fakta ini memperkuat bukti bahwa WJBT adalah sesar aktif yang harus diwaspadai.
Struktur Sesar Naik Busur
Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat bukan satu jalur tunggal. Sesar ini terbentuk dari beberapa segmen sesar aktif. Beberapa di antaranya:
BACA JUGA: Settt Bocoran Waktu Rilis dan Spesifikasi iPhone 17, Siap-siap Nabung untuk War-nya
BACA JUGA: Wali Kota Tasikmalaya Sidak Pajak Kendaraan Dinas, 395 Unit Belum Tertib Bayar
1. Sesar Baribis. Sesar ini kerap dijuluki “bom waktu” karena jalurnya melewati kawasan padat penduduk, termasuk sekitar Jakarta.
2. Sesar Citarum Front. Panjangnya sekitar 70 kilometer. Terbentang dari timur ke tenggara.
3. Sesar Citarum. Memanjang sekitar 40 kilometer. Arah barat hingga barat laut.