Pesantren Sekolah Kehidupan, Madrasah Perjuangan

Pesantren Sekolah Kehidupan, Madrasah Perjuangan

AlFarabi Rafiq Ilmi, Santri Pesantren At-tajdid Muhammadiyah Kelas VII. istimewa for radartasik.com--

PESANTREN bukan sekedar bangunan sederhana dengan dinding yang mungkin retak dimakan waktu. 

Ia adalah sebuah dunia, tempat jiwa-jiwa muda ditempa, mimpi-mimpi disemai dan perjuangan dimulai. 

Di balik lantunan ayat-ayat suci yang menggema setiap subuh, tersembunyi kisah panjang tentang pengorbanan, kesabaran dan tekad yang tidak pernah padam.

Bagi seorang santri, melangkah ke pesantren ibarat memasuki gerbang kehidupan baru. 

BACA JUGA:Tas Alumni ITB dari Tasikmalaya Tembus Pasar Internasional, Bukti Ketekunan UMKM Lokal Naik Kelas

Di sana, segala sesuatu terasa berbeda. Makan bersama dengan sederhana, bangun sebelum ayam jantan berkokok. 

Dari hal kecil itulah, pelajaran tentang hidup perlahan mengakar, pesantren mengajarkan arti kesahajaan, disiplin, serta bagaimana menjadikan ilmu sebagai jalan menuju Ridha Allah.

Namun, pesantren bukanlah tempat yang hanya diisi dengan doa dan kitab.

Ia juga medan perjuangan. 

BACA JUGA:Dari Revolusi Hungaria hingga Hari Jadi Kota Pontianak

Perjuangan melawan rasa malas, menundukkan ego, menata hati dan merawat cita-cita. 

Di sinilah para santri belajar bahwa bukan berarti tak pernah jatuh, melainkan mampu bangkit setiap kali terjatuh. 

Seorang santri tidak hanya dibentuk untuk pandai membaca kitab, tetapi juga untuk tangguh menghadapi zaman, berani menatap masa depan dan siap jadi penerang bagi masyarakat.

Pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga Madrasah Perjuangan.  

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: