Khusnul Bomiyah

Khusnul Bomiyah

--

Jalan raya itu ramai sekali. Dua cafe di dekat Jinggo sudah mulai penuh pengunjung. Sudah pukul 21.00 lebih. Banyak pengunjung bule di situ. Jalan raya macet. Lalu-lintas tertahan oleh sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan, persis di depan penjual Jinggo. 

Khusnul pun mendekat ke sepeda nasi Jinggo. Dia memesan enam bungkus. "Tunggu sebentar ya, saya mau bantu dorong mobil mogok itu dulu," ujar penjual nasi.

Khusnul melihat beberapa orang juga menuju mobil mogok itu. Mereka akan mendorongnya rame-rame. Tapi Khusnul melihat sopir mobil itu baru saja turun. Lalu bergegas naik di boncengan sebuah sepeda motor. Kabur. 

Saat mereka mulai mendorong mobil itulah, mobil meledak. Dahsyat. Khusnul terpental jatuh. Terkapar. Penuh luka dan darah. Wajahnyi menghitam. Pun tubuhnyi. Seperti terbakar. Bisa dibayangkan bagaimana nasib mereka yang mendorong mobil. 

Setelah siuman, Khusnul melihat semuanya gelap. Ia terduduk di situ. Di trotoar. Tidak bisa jalan. Dia lihat ada bule mendekat ke arahnyi. Dia sepak kaki bule itu dengan kaki kanan yang masih bisa digerakkan. Yang kiri terluka berat. "Help me," katanyi pada bule itu.

Si bule, kata Khusnul, menyalakan korek api. Ia pun bisa melihat Khusnul. Seperti orang terbakar. Ia angkat Khusnul. Ia panggul menuju simpang empat. "Saya ingat bule itu mencegat mobil agar membawa saya ke rumah sakit," ujar Khusnul. "Saya lihat bule itu menyerahkan dompet ke orang yang ada di mobil. Saya pun dibawa ke RS Sanglah," ujar Khusnul.

Sampai di situ Khusnul masih mengira yang meledak barusan adalah trafo listrik. Memang dia hafal ada trafo besar di depan kafe yang ramai itu. 

Ternyata Sanglah sudah penuh korban bom. Bukan hanya yang dari Kuta tapi juga yang meledak di Jimbaran. Mobil pun balik arah. Menuju kota Denpasar. Ke RS TNI-AD.

Sesama suami yang di rumah bingung. Istri mereka tidak segera pulang. Mereka pun merasa: jangan-jangan terkena ledakan yang barusan menggema. Yang suaranya terdengar keras pun dari rumah kontrakannya. 

Maka sang suami menuju rumah sakit Sanglah. Bersama tamunya. Semalam suntuk mereka meneliti semua korban yang dibawa ke situ. Mereka tidak bisa menemukan istri masing-masing. Tidak ada nama Khusnul Chotimah. 

Keesokan harinya sang suami ke rumah sakit TNI-AD. Juga tidak ada nama istrinya. Ia teliti satu persatu nama yang dirawat di situ. Dari atas ke bawah. Dari bawah ke atas. Yang ada hanya nama Nurul Fatimah.

Ada perasaan tertentu ketika membaca nama itu: jangan-jangan itu istrinya. Salah tulis. Ia pun minta izin menengok Nurul Fatimah. Tidak mudah menengok korban terorisme. Bisa dicurigai sebagai jaringan teror yang akan menghilangkan saksi.

Akhirnya diizinkan. Nurul Fatimah itulah Khusnul Chotimah.

Di Sidoarjo, Sang ayah melihat berita di TV. Perasaannya juga merasa: Anaknya jadi korban. Nomor HP sang putri tidak bisa dihubungi. Lenyap bersama ledakan. Sang menantu belum bisa memberikan kepastian. Masih mencari dan mencari.

Sang ayah pun langsung berangkat ke Bali. Naik bus. Sampai di terminal penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, ia dihadang petugas. Justru ia dicurigai. Ia merasa itu gara-gara jenggotnya yang panjang. Maka ia balik kucing. Ke Jember. Salah satu anaknya tinggal di Jember.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: