WHO: Pandemi Belum Usai, Omicron â€Siluman†Menginvasi 57 Negara, Lebih Menular dan Sulit Dilacak
Reporter:
usep saeffulloh|
Jumat 04-02-2022,09:00 WIB
Radartasik.com, Varian Omicron telah memicu gelombang penularan Covid-19 secara global. Kini muncul sub varian baru dari Omicron. Lebih cepat menular daripada Omicron awal.
”Makin banyak penularan berarti lebih banyak kematian.” Pernyataan itu dilontarkan Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (
WHO)
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Selasa (1/2/2022).
Pernyataan itu terkait dengan kian banyaknya negara yang merasa tidak perlu lagi mencegah penularan virus SARS-CoV-2. Alasannya, sudah divaksin dan gejala varian
Omicron lebih ringan meski mudah menular.
Denmark dan Austria menjadi negara terbaru yang melonggarkan pembatasan
Covid-19. Sebelumnya, langkah serupa diterapkan Inggris, Irlandia, dan Belanda. Namun, beberapa negara Eropa lainnya justru berencana memperketat aturan guna mengurangi penularan.
”Negara-negara yang memutuskan untuk membuka diri secara lebih luas juga perlu memastikan kemampuannya untuk menerapkan lagi langkah-langkah pencegahan jika diperlukan,” ujar Kepala
Kedaruratan
WHO Michael Ryan. Jadi, ibaratnya mereka membuka pintu dengan cepat, tetapi juga siap jika harus secepatnya menutupnya.
Omicron adalah varian yang mendominasi penularan
Covid-19 saat ini.
WHO berkali-kali menyatakan bahwa pandemi belum usai. Terlebih, saat ini telah lahir subvarian
Omicron.
Sebanyak 96 persen kasus
Omicron yang ada saat ini berasal dari varian awal, yaitu BA.1 dan BA.1.1. Kini muncul BA.2 dan BA.3. Saat ini sudah ada 57 negara yang melaporkan kasus BA.2.
Subvarian
Omicron tersebut sudah bermutasi dan berbeda dengan varian awalnya. Terutama di bagian spike protein yang digunakan untuk masuk ke sel manusia.
NBC Chicago melaporkan bahwa BA.2 lebih menular 1,5 kali jika dibandingkan dengan versi aslinya. Ia juga sulit dideteksi. Karena itu, ia dijuluki
Stealth Omicron alias si Siluman
Omicron.
(jp)
Belum diketahui respons vaksin terhadap subvarian tersebut dan pengobatannya. Wisconsin, AS, menjadi salah satu wilayah yang mendeteksi adanya BA.2. (jp)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: