Laporan RSF Ungkap 488 Jurnalis Dipenjara Sepanjang 2021

Laporan RSF Ungkap 488 Jurnalis Dipenjara Sepanjang 2021

Radartasik.com — Menyuarakan kebenaran berujung penjara. Itulah yang dialami 488 jurnalis profesional di berbagai negara saat ini. Menurut Reporters Without Borders (RSF), itu adalah jumlah tertinggi sejak mereka melakukan penghitungan 25 tahun lalu. 

Ada kenaikan 20 persen dibandingkan tahun lalu. Tindakan keras terhadap media di Myanmar, Belarus, dan Hongkong menjadi penyumbang terbesar.

”Kami juga tidak pernah melihat begitu banyak jurnalis perempuan yang ditahan. Jumlah keseluruhannya mencapai 60 orang,” bunyi laporan RSF seperti dikutip Agence France-Presse. Itu naik sekitar 33 persen dibandingkan dengan 2020.

Tiongkok sekali lagi mencatatkan rekor sebagai negara yang paling banyak menangkap pekerja media. Dari 488 jurnalis yang dibui, sebanyak 127 orang ada di Negeri Panda tersebut. Menurut RSF, tindakan keras Tiongkok pada kebebasan pers adalah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya di negara lain.

Sejak Tiongkok menerapkan undang-undang keamanan nasional di Hongkong, jumlah jurnalis yang ditangkap terus bertambah. Padahal dulu, Hongkong adalah wilayah dengan kebebasan pers. Hampir tidak ada sensor dan pembatasan di wilayah otonomi khusus tersebut. Namun, sekarang situasinya berbeda.

”Hingga 1 Desember lalu, undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan Tiongkok pada 2020 telah digunakan sebagai dalih untuk menangkap dan menahan setidaknya 10 jurnalis,” bunyi kutipan laporan RSF tersebut.

Setelah Tiongkok, ada sekutunya, yaitu Myanmar. Sebanyak 53 jurnalis di negara tersebut kini dipenjara. Vietnam menyusul dengan 43 orang, Belarus 32 orang, dan Arab Saudi 31 orang.

Sementara itu, jurnalis yang dijadikan sandera mencapai 65 orang dan semuanya berada di Timur Tengah.

Di lain pihak, jumlah jurnalis yang tewas tahun ini justru turun. Yaitu, ”hanya” 46 orang. Itu adalah jumlah terendah sejak RSF mengeluarkan laporan pertamanya pada 1995.

Hal tersebut diyakini karena saat ini konflik di wilayah Timur Tengah relatif stabil. Situasi di Iraq, Syria, dan Yaman kini lebih aman sehingga lebih sedikit jurnalis yang dikirim ke wilayah-wilayah konflik tersebut. Meksiko dan Afghanistan masih menjadi negara yang paling berbahaya untuk para jurnalis. Di dua negara tersebut, pembunuhan memang sudah ditargetkan untuk jurnalis tertentu. (jpg)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: