Puasa menjadi laboratorium moral tempat masyarakat melatih kejujuran, pengendalian diri, dan tanggung jawab.
Jika nilai tersebut dipertahankan selepas Ramadhan, kualitas hubungan sosial berpotensi meningkat secara berkelanjutan.
Karena itu, refleksi terhadap dimensi sosial puasa penting untuk terus dihidupkan.
Dengan cara demikian, Ramadhan tidak berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan menjelma gerakan peradaban.