Kehangatan keluarga dan komunitas menjadi energi tambahan yang membantu mereka bertahan.
Ramadhan pun terasa intim karena kebersamaan menjadi kebutuhan sekaligus penguat.
BACA JUGA:Tenang Jalani Puasa Ramadhan dan Lebaran, Begini Cara Mengatur Gaji agar Kebutuhan Tetap Aman
Tantangan semakin kompleks ketika membicarakan durasi puasa wilayah kutub yang pada waktu tertentu membuat durasi matahari bersinar terasa lama.
Di Islandia atau Norwegia, siang yang terlalu panjang memunculkan pertanyaan praktis tentang kapan harus menahan diri dan kapan mengakhirinya.
Para ulama kemudian menghadirkan panduan agar ibadah tetap realistis tanpa kehilangan esensi.
Rujukan itu memberi napas lega bagi Muslim minoritas yang ingin tetap taat namun juga menjaga kesehatan.
Keseimbangan antara ijtihad dan kondisi nyata menjadi kunci.
BACA JUGA:Cerita Hangat Ramadhan dan Harmoni Umat Muslim di Italia, Simak Kisahnya!
Pendekatan itu lahir dari kebutuhan riil sehingga fatwa puasa negara matahari panjang bukan sekadar wacana, melainkan solusi yang hidup di tengah masyarakat.
Di berbagai tempat, keputusan bersama tersebut membuat Ramadhan tetap bisa dijalani dengan penuh kegembiraan.
Anak-anak belajar bahwa Islam memberi ruang kemudahan tanpa mengurangi kekhidmatan.
BACA JUGA:Wajah Lain Rusia: Cerita Islam, Ramadhan, dan Harmoni di Negeri Beruang Merah
Puasa tidak lagi dilihat sebagai beban, tetapi sebagai ibadah yang memahami kemampuan setiap pemeluknya.
Dari panas membara hingga dingin membeku, semua bermuara pada niat yang sama.
Ramadhan menyatukan umat dalam spektrum pengalaman yang luas namun tetap berada dalam satu kiblat.