Langit, Kompas, dan Sebuah Ijtihad

Rabu 29-10-2025,15:00 WIB
Editor : Rezza Rizaldi

KH. Ahmad Dahlan memang telah wafat pada hari Senin, 23 Februari 1923 M, bertepatan dengan 7 Rajab 1341 H, namun ruh keilmuannya tidak pernah padam.

Dari tempat peristirahatannya di Karangkajen, bagian selatan Kota Yogyakarta, seakan mengalir pesan abadi: Teruslah belajar, teruslah bergerak, dan jangan berhenti memperbarui diri dalam cahaya Al-Quran”.

BACA JUGA:Link DANA Kaget 2025: Cara Dapat Saldo DANA Gratis Tanpa Ribet

Ia hidup di setiap sekolah, madrasah, dan kampus Muhammadiyah, di setiap observasi hilal, di setiap pelajaran falak yang disampaikan dengan penuh kesungguhan.

Langit Sebagai Cermin Jiwa

Bayangkan jika malam itu kita duduk di samping beliau, menatap bulan sabit yang baru muncul di langit Yogyakarta.

Kita akan mendengar suaranya yang lembut tapi penuh keyakinan, Lihatlah, semua benda langit berjalan dengan teratur.

BACA JUGA:Berburu DANA Kaget untuk Dapat Saldo DANA Gratis Rp231.000

Begitulah seharusnya hidup seorang mukmin. Teratur dalam ibadah, terukur dalam amal, dan terarah kepada Allah.

Begitulah KH. Ahmad Dahlan memahami ilmu falak.

Bukan hanya untuk mengatur arah kiblat atau menentukan awal bulan, tapi untuk menata arah kehidupan.

Falak menjadi simbol keteraturan, hisab menjadi lambang ketelitian, dan astronomi menjadi jendela untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta.

BACA JUGA:Main Game Fish Master Bisa Hasilkan Saldo DANA Gratis Tanpa Modal

Cahaya yang Tak Pernah Padam

Kini, lebih dari seratus tahun setelah beliau berpulang, langit masih sama: bulan masih beredar, matahari masih bersinar, dan arah kiblat tetap menjadi tanda bagi mereka yang mencari Tuhan.

Namun, setiap kali umat Islam mengukur bayangan matahari, menghitung waktu shalat, atau menatap hilal di ufuk barat, di sanalah semangat KH. Ahmad Dahlan seakan hadir kembali.

Kategori :