Maka, di sekolah-sekolah yang beliau dirikan, ajaran ilmu falak disandingkan dengan pelajaran tafsir dan fikih.
Santri tidak hanya diajarkan cara membaca Alquran, tetapi juga cara membaca alam.
Mereka belajar mengukur bayangan matahari untuk menentukan waktu shalat, menghitung posisi bulan untuk mengetahui awal Ramadan, dan menatap bintang untuk memahami arah kiblat.
BACA JUGA:Pelaku Penusukan di Argasari Tasikmalaya Diamankan, Polisi Masih Lakukan Pemeriksaan
Dengan cara itu, KH. Ahmad Dahlan menghidupkan kembali tradisi ilmiah Islam.
Tradisi yang pernah berjaya di masa al-Battani, al-Biruni, dan Ibnu Syatir, lalu menjadikannya relevan di bumi Nusantara.
KH. Ahmad Dahlan tidak berjalan sendirian.
Di sekelilingnya tumbuh lingkaran murid-murid yang kelak menjadi penerus perjuangan.
Ada KH. Fachruddin, yang dikenal telaten dalam perhitungan waktu shalat dan arah kiblat.
Ada KH. Mas Mansur, seorang pemikir cemerlang yang memperluas pemakaian hisab dalam penentuan awal bulan.
Ada pula para kader muda yang kelak mendirikan lembaga hisab dan rukyat Muhammadiyah di berbagai daerah dan kemudian diwadahi dalam Majelis Tarjih.
Mereka tidak hanya melanjutkan ilmu falak secara teknis, tetapi juga mewarisi semangat ijtihad dan keberanian berpikir.
BACA JUGA:Nongkrong Bareng Berujung Maut, Pria di Tasikmalaya Tewas Ditusuk Teman
Dari sinilah lahir tradisi hisab Muhammadiyah yang terus berkembang.
Dari perhitungan sederhana dengan tabel astronomi, hingga sistem kalender global yang kini dikenal sebagai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).