BTN menekankan bahwa inisiatif ini juga mendukung strategi Environmental, Social, and Governance (ESG).
Setiyo menuturkan pengelolaan sampah melalui program ini tidak hanya menjadi sarana menabung untuk cicilan rumah namun juga tabungan bagi keberlanjutan bumi di masa depan.
Kolaborasi dengan Rekosistem
Dalam menjalankan program ini, BTN bekerja sama dengan Rekosistem, perusahaan pengelola sampah berbasis teknologi.
Sampah yang dikumpulkan masyarakat akan dijemput melalui layanan Reko Keliling x BTN.
BACA JUGA: Perbup Pertanahan di Tasikmalaya Dinilai Kurang Komprehensif, DPRD Minta Revisi
BACA JUGA: Aplikasi Penghasil Uang Wild Cash Beri Saldo DANA Gratis Hari Ini
Jenis sampah yang diterima cukup beragam, mulai dari plastik, kertas, logam, minyak jelantah hingga elektronik bekas.
Setelah disetor, sampah dipilah, dicatat, lalu dikonversi menjadi poin bernama Rekopoin.
Nilai poin itu akan langsung ditransfer ke rekening BTN nasabah sebagai tambahan pembayaran cicilan rumah.
Dengan mekanisme ini, sampah yang biasanya menumpuk di tempat pembuangan akhir bisa berubah menjadi aset nyata.
CEO sekaligus Co-Founder Rekosistem Ernest Christian Layman, menilai masalah sampah di Indonesia masih rumit karena mayoritas berakhir di TPA.
Kondisi tersebut membuat biaya pengelolaan semakin tinggi.
Dia menyebut partisipasi masyarakat dalam program ini bisa menjadi solusi.
Menurutnya, inisiatif BTN bukan hanya sekadar inovasi finansial namun juga kontribusi menjaga bumi tetap lestari.
BACA JUGA: Dapur MBG Penyebab Keracunan Massal Dibekukan Sementara, Pastikan Dua Hal Pokok Terpenuhi
BACA JUGA: Persib Boyong 21 Pemain ke Bangkok, Ini Daftar Nama-Namanya