Pesawat ini sudah sukses menjalani penerbangan perdana pada awal 2024.
Saat ini, TAI menyelesaikan tiga prototipe jet KAAN. Dua jet tempur dijadwalkan kembali terbang pada April 2026.
Produksi massal tahap pertama pun akan segera dimulai oleh TAI.
Direktur Utama TAI, Mehmet Demiroglu, menilai pencapaian ini sangat prestisius.
Menurutnya, Turki kini sejajar dengan empat negara lain yang sudah mampu membuat jet generasi kelima.
Dia menyebut beberapa konsorsium lain bahkan masih berjuang dan baru menargetkan uji coba perdana pada 2035–2040.
Selain jet tempur, TAI juga merancang kerja sama jet latih Hurjet dengan Spanyol.
Kesepakatan itu ditargetkan selesai pada akhir tahun ini.
BACA JUGA: Terminal Indihiang Disiapkan Jadi Pusat Seni, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Tasikmalaya
Turki menilai Indonesia sebagai mitra potensial di bidang industri pertahanan.
TAI juga melihat peluang kerja sama serupa dengan negara-negara di kawasan Teluk.
Pembelian jet KAAN ini bukan sekadar penguatan alutsista.
Langkah ini dianggap strategis dalam membangun kemandirian teknologi pertahanan nasional.
Transfer teknologi diharapkan menjadi titik tolak pengembangan industri aviasi militer di Indonesia.
Kolaborasi ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain penting di sektor pertahanan Asia.
Dengan kehadiran KAAN, sistem pertahanan udara nasional akan mengalami peningkatan signifikan.