Debut dan Adaptasi Kilat
Debutnya hanya berselang enam hari dari penandatanganan kontrak. Saat PSG melumat Montpellier 6-0, Doue masuk dari bangku cadangan dan langsung mencuri perhatian dengan dribbling lincah dan visi permainan yang matang.
Sejak saat itu, menit bermainnya terus bertambah. Ia menjadi gelandang serba bisa: bisa bermain di sayap, tengah, atau sebagai gelandang serang.
Fleksibilitas inilah yang membuatnya jadi senjata andalan Luis Enrique sepanjang musim.
BACA JUGA:Taekwondo Kabupaten Tasikmalaya Sabet Juara Umum Taekwondo KONI Championship 2025
Ia bukan hanya pelengkap skuad, tapi pengubah jalannya pertandingan baik saat bermain dari awal maupun dari bangku cadangan.
Final yang Mengubah Segalanya
Dan ketika PSG akhirnya mencapai final Liga Champions, misi besar yang sudah bertahun-tahun gagal diwujudkan dan Desire Doue tampil sebagai starter.
Lawannya bukan sembarangan: Inter Milan, tim solid yang menyingkirkan Real Madrid dan Manchester City di babak sebelumnya.
BACA JUGA:Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya Terpilih Ditargetkan Sebelum Idul Adha
Tapi malam itu, Doue seperti dilahirkan untuk pertandingan besar. Ia membuka skor lewat sepakan jarak jauh yang tak bisa dijangkau kiper Inter.
Gol keduanya datang lewat penyelesaian tenang setelah kombinasi cepat dengan Dembele. Tak cukup di situ, ia juga mencatatkan satu assist untuk Mbappe.
Penampilannya yang spektakuler tak hanya membantu PSG meraih kemenangan terbesar dalam sejarah final Liga Champions, tapi juga menjadikannya sebagai Pemain Muda Terbaik kompetisi musim itu.
"Saya tidak pernah membayangkan bisa mencetak dua gol di final Liga Champions. Tapi ini buah dari kerja keras dan kepercayaan tim pada saya," ucap Doue dengan mata berbinar usai pertandingan.
BACA JUGA:Cegah Remaja Konsumsi Miras, Polisi di Kota Tasikmalaya Gencarkan Patroli Malam
Warisan yang Baru Dimulai