Ramadhan di Jantung Eropa: Jejak Perkembangan Islam di Belgia Modern yang Kian Menguat
Suasana Ramadhan di Belgia dengan latar bangunan klasik eropa.-Istimewa -
RADARTASIK.COM - Ramadhan selalu punya cara istimewa untuk menyatukan hati, bahkan di jantung Eropa, dan Perkembangan Islam di Belgia modern menjadi bukti nyata bagaimana cahaya iman tetap bersinar di tengah masyarakat minoritas.
Di negeri kecil bernama Belgia, yang dikenal sebagai pusat politik Eropa sekaligus markas besar Uni Eropa dan NATO, Islam tumbuh perlahan namun pasti di tengah arsitektur klasik dan udara dingin khas benua biru.
Dilansir dari kanal Cerita Lagent, saat Ramadhan tiba, suasana berubah menjadi lebih hangat di rumah-rumah muslim, meski azan tidak selalu menggema di ruang publik seperti di negara mayoritas Islam.
Inilah potret Ramadhan di negara minoritas muslim yang penuh keteguhan, ketika umat menahan lapar hingga 16 sampai 18 jam saat musim panas menyapa Eropa Barat.
Di balik bangunan gotik dan jalanan berbatu, kehidupan spiritual tetap berjalan, menghadirkan kebersamaan sederhana namun sarat makna.
Momentum ini bukan sekadar ibadah personal, melainkan ruang refleksi tentang bagaimana umat Islam bertahan dan berkontribusi di tengah perbedaan budaya dan keyakinan.
BACA JUGA:Potret Ramadhan di Negara Dengan Cuaca Ekstrem, Dari Gurun Membara hingga Negeri Matahari Panjang
Jika menilik ke belakang, Sejarah komunitas muslim Eropa Barat tak bisa dilepaskan dari gelombang migrasi pekerja Maroko dan Turki pada dekade 1960-an yang datang untuk mengisi kebutuhan industri Belgia.
Dari para pekerja itulah cikal bakal komunitas muslim bertumbuh, menetap, membangun keluarga, serta mendirikan masjid dan lembaga pendidikan Islam.
Tonggak penting terjadi pada 1974 ketika Islam resmi diakui sebagai salah satu agama yang diakui negara, memberi ruang legal dalam sistem pendidikan dan pengelolaan tempat ibadah.
Pengakuan tersebut menegaskan bahwa Islam bukan sekadar agama pendatang, melainkan bagian sah dari struktur sosial Belgia modern yang sekuler.
Meski menghadapi tantangan seperti stereotip dan dinamika politik, komunitas muslim terus memperkuat eksistensinya melalui kontribusi nyata di berbagai bidang.
Ratusan masjid berdiri di berbagai kota, menjadi simbol bahwa iman dapat tumbuh subur meski berada di tanah yang berbeda tradisi.
BACA JUGA:Cerita Hangat Ramadhan dan Harmoni Umat Muslim di Italia, Simak Kisahnya!
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: