Siapa Membunuh Putri (15) - Sidang yang Tegang

Siapa Membunuh Putri (15) - Sidang yang Tegang

Ilustrasi sidang.--

KOTA pulau ini, kota Borgam ini, di mataku kadang seperti Gotham. Penguasa bukanlah penguasa yang sebenarnya. Penguasa formal adalah dia yang bersepakat untuk berbagi otoritas. Dengan proses tawar-menawar yang keras. Dan kerap berdarah.

Seperti Gotham. Gelap. Tegang. Dan identitasmu menjadi penting. Terutama identitas kelompokmu. Itulah topeng yang kau pakai di tubuhmu, dan kostum yang kau kenakan di tubuhmu, yang bisa membuatmu diperhitungkan, membuatmu berani, punya pelindung, berani melawan, dan terutama berani berhadapan dengan kelompok identitas lain.

Itu yang bikin konflik kecil bisa mudah sekali menjadi bentrok antarkelompok. Tegang sekali. Kerukunan kadang terasa hanya basa-basi yang palsu di permukaan pergaulan.

Saya menyadari itu, bahwa bekerja sebagai wartawan, dengan surat-kabar kami kadang-kadang tak sadar seperti melempar korek menyala ke tengah jerami kering. Berita kami bisa jadi penyulut kerusuhan. Kami tak bermaksud begitu, tapi orang tertentu, kelompok tertentu memanfaatkannya untuk kepentingan mereka.

Saya dan redaksi menimbang keras strategi pemberitaan kami menjelang sidang pembunuhan Putri. Dengan Awang dan Runi sebagai tersangka. Penangkapan Awang sangat dramatis. Sepasukan polisi mengepung rumah ketua ormas Melayu, yang masih diakui sebagai kerabatnya. Bukannya menyerahkan Awang, si ketua ormas menyuruh pasukan polisi itu kembali. “Hari ini juga, kami yang akan mengantar Awang ke kantor polisi,” kata Panglima Wira.

Wira memimpin satu kelompok ormas yang sangat berpengaruh. Namanya Porpal. Singkatan Persatuan Orang Lokal. Sejak penyerahan Awang, dan diberitakan Awang ditetapkan jadi tersangka, mereka selalu kirim rilis dan “memaksa” kami memuatnya. Sehari setelah penyerahan Awang, pengurus Porpal dan puluhan anggotanya -yang berjaga di rumah sang Panglima ketika Awang hendak ditangkap- datang ke kantor.

Saya tak terbiasa berurusan dengan orang seramai itu. Apalagi dengan seragam hitam yang makin bikin gentar. Gugup juga rasanya ketika saya menemui mereka. Nyatanya mereka santun, meski bicara dengan penuh tekanan dan volume satu setengah kali lebih tinggi dari saya.

Sebagian saya kenal baik tokoh-tokoh orang lokal itu. Orang lokal ini kategorinya lebar sekali, selain siapa saja yang lahir besar di Borgam, suku apa saja yang merasa sudah jadi orang Borgam, atau sudah belasan tahun tinggal di bisa masuk jadi anggota. Karena itu Porpal jadi ormas yang secara keanggotaan besar, dan secara pengaruh pun disegani.

Awang anggota Porpal. Dengan kartu anggota yang sah, meski tak terlalu aktif. Ketika kami menurunkan feature tentang siapa Awang, kami tak terlalu menonjolkan soal keanggotaannya di ormas itu. Kami tak terlalu besarkan drama penyerahan Awang ke kantor polisi. Kami dapat foto bagaimana polisi mengepung dan disuruh pulang, tapi kami putuskan untuk tak memuatnya. Kami tahu itu bisa menjadi pemercik dan bahkan memperbesar api konflik. Tapi, dengan tak terlalu membesar-besarkannya justru koran kami didatangi, didesak memuat rilis versi Porpal.

Feature kami berfokus pada profil Awang yang memang tidak meyakinkan untuk melakukan pembunuhan dengan motif yang disebutkan polisi. Meski curriculum vitae-nya tak jauh dari dunia hitam. Ia lama kerja jadi tenaga pengaman hotel yang diam-diam dioperasikan sebagai kasino.

Porpal sebenarnya sangat setuju dengan profil Awang yang kami turunkan lengkap itu. Tapi ada yang berada di luar perhitungan kami. Mereka hendak berselancar di atas isu itu. Lepas nanti hasil sidang membuktikan Awang bersalah atau tidak, selama persidangan, isu itu bisa ditunggangi untuk popularitas Porpal. Terutama untuk mengangkat nama ketua umumnya, panglima besarnya. Dia baru saja juga menjadi ketua dewan pengurus cabang sebuah partai yang sedang naik daun. Dia sudah pasang baliho di mana-mana sebagai calon anggota DPRD untuk pemilu tahun depan.

Ruwet memang. Kepentingan politik itu juga dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh Sumbawa. Runi adalah orang Bima, kota kabupaten di sana. Perkumpulan Orang Sumbawa di Gortam juga cukup diperhitungkan. Hanya berselisih hari, pengurus dan anggotanya juga mendatangi kantor kami. Minta diwawancarai untuk dimuat pernyataannya terkait Runi, yang mereka yakini juga tak bersalah. Penetapan dia sebagai tersangka, menurut mereka seperti dinyatakan dalam rilis, santer berbau rekayasa.

Dua tekanan itu, yang bisa juga kami anggap dukungan, membuat kami menjadi sangat berhati-hati mengolah berita pembunuhan Putri. Tapi konflik yang lebih besar dan terbuka mulai tersulut juga ketika sidang pertama dibuka. Keluarga Putri, terutama sang ibu, menghadang datangnya mobil tersangka di halaman PN Gortam. What a drama!

“Pembunuh, kau, pembunuh. Kau harus dihukum seberat-beratnya.” Ibunda Putri meraung-raung, menangis, sambil mengejar mobil dan makin histeris ketika melihat dua tersangka keluar dari mobil tahanan. Seperti sengaja dilepaskan. Seperti sebuah aksi yang sudah diatur. AKPB Pintor mengejar dan memeluk sang ibu mertua. Ayah mertuanya duduk di kursi roda. Ada opini yang hendak dibangun dengan drama itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: