Menko Airlangga: Posisi Strategis T20 Berikan Rekomendasi Pada Para Pemimpin G20

Menko Airlangga: Posisi Strategis T20 Berikan Rekomendasi Pada Para Pemimpin G20

Airlangga Hartarto-Istimewa-

radartasik.com - Presidensi G20 Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi secara inklusif.

Termasuk kolaborasi antara Pemerintah dengan stakeholder serta para akademisi dan peneliti untuk menghasilkan kebijakan yang sesuai untuk bisa diterapkan serta memberikan manfaat yang nyata.

Konsensus yang ingin dicapai oleh para pemimpin global dari forum G20 menghadapi potensi masalah yang serius, terkait dengan konflik kepentingan dan gejolak geopolitik saat ini. 

BACA JUGA:Putri Candrwathi Cs Dianggap 'Jujur' Saat Diperiksa Lie Detector, Mantan Kabareskrim: Keakuratan 50-60 Persen

Konsensus akhir yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi konsesus yang paling objektif dan tidak memihak.

“Engagement Group Think 20 (T20) sebagai kelompok keterlibatan yang dibentuk oleh para peneliti dengan hubungan langsung untuk memberikan rekomendasi kepada para pemimpin G20, memiliki posisi sangat penting dalam memastikan masalah yang ingin diselesaikan oleh para pemimpin G20 yang bersangkutan,” papar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Hal itu disampaikan pada T20 Indonesia Summit 2022 Plenary Session 1: Bridging Diverse Interests for Greater Global Cooperation, Senin (5/09/2022).

BACA JUGA:12 Poin Ini Kata Ibu Wali Kota Jangan Dilakukan Kades Termuda di Kota Banjar

Ketegangan geopolitik, tekanan politik, dan representatif asimetris antar kelompok negara merupakan berbagai faktor yang dapat mendorong pembicaraan antar pemimpin negara ke arah yang tidak diinginkan.

Menghadapi tantangan ini, T20 dapat turun tangan untuk mendukung pembahasan di tingkat G20 ke arah hasil yang lebih diinginkan.

Mencermati perkembangan terakhir, perlu ditegakkan aspek inklusivitas dalam diskusi di tingkat G20. 

BACA JUGA:Korupsi Bantuan Gerobak untuk UMKM, 2 Pejabat Kemendag Ditetapkan sebagai Tersangka

Saat ini, narasi seputar isu global masih didominasi oleh 'northern voice' yang cenderung lebih kongruen dengan kebijakan dan pandangan negara maju.

Namun, negara berkembang dan negara berpenghasilan rendah ikut terpengaruh oleh krisis seperti halnya negara maju. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: