Kritik Sosial Lewat Opera Kecoa

Kritik Sosial Lewat Opera Kecoa

RADARTASIK, TASIKMALAYA - Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Siliwangi mengadakan festival pertunjukan drama trilogi opera kecoa di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya, Rabu -Kamis (29-30/6/2022).

Ketua Pelaksana Acara Fawzan Azkiya menyampaikan bahwa opera ini merupakan kegiatan akademis dalam rangka Ujian Praktikum Mata Kuliah Apresiasi Drama dan Manajemen Pergelaran Penyelenggara Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Siliwangi.

”Kegiatan ujian praktikum diselenggarakan dalam bentuk Festival Pertunjukan Drama. Dengan tujuan mahasiswa memperoleh atmosfer lain atau memperoleh pengalaman secara praktis dalam bidang produksi pertunjukan drama,” paparnya.

Lanjut Fawzan bahwa inisiator sistem perkuliahan dan ujian praktikum ini adalah Drs Jojo Nuryanto MHum. Ia merupakan Founding Father atau peletak gagasan utama dan pertama dalam mata kuliah sastra di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Unsil. 

Fawzan menerangkan, mengenai drama sebagai seni pentas atau pertunjukan merupakan jenis kesenian mandiri yang  memiliki tujuan utama untuk dipentaskan. Drama pentas pada umumnya berupa perpaduan  antara berbagai kesenian, seperti seni musik, seni lukis (dekor, panggung), seni rias, seni kostum dan seni suara.

BACA JUGA: Bawa Misi Besar, UT Gandeng Tiga Institusi

”Jadi untuk membicarakan drama harus ditentukan terlebih dahulu  sudut yang akan dibahas, unsur sastra atau pertunjukan, atau kedua-duanya sebagai karya  drama yang terpadu,” ucapnya.

Pada dasarnya, drama memiliki dua dimensi yaitu dimensi sastra dan dimensi pertunjukan,  keduanya saling berhubungan, tidak bertentangan, dan tidak berlawanan satu sama lain  karena pertunjukan drama ada karena adanya naskah drama sebagai sebuah karya sastra.  

Namun, masing-masing dimensi tetap memiliki bidang tersendiri atau berbeda, karena  setiap dimensi dibangun dan dibentuk oleh unsur-unsur berbeda pula. Drama memiliki unsur-unsur pertunjukan yang meliputi penokohan, plot, amanat, tata rias, tata busana, tata panggung, properti, pencahayaan, musik pengiring, dan sebagainya. Visualisasi unsur-unsur tersebut akan membuat pertunjukan dapat dinilai, dinikmati, dan diapresiasi oleh penonton.

”Sehingga pada akhirnya penonton tidak hanya berimajinasi saja terhadap hal yang ada pada teks drama,” ucapnya.

Mengenai naskah drama, kata Fawzan, merupakan refleksi pemikiran yang menyangkut masalah sosial, budaya, politik, bahkan agama dari pengarang yang dikemas dengan artistik dan realistik. Masalah-masalah yang  terjadi di kehidupan manusia tersebut dapat dijadikan landasan bagi para pengarang untuk  dijadikan sebuah cerita. Naskah drama yang dijadikan sebagai judul dari Festival Drama ini mengangkat  Trilogi Opera Kecoa karya N Riantiarno. Trilogi ini meliputi Naskah Bom Waktu, Naskah Opera Kecoa, dan Naskah Opera Julini. Secara garis besar, N Riantiarno menonjolkan Trilogi Opera Kecoa ini dari segi ekonomi, sosial budaya, dan politik.

”Pertama, segi ekonomi dalam naskah ini yaitu terjadinya ketimpangan antara golongan atas dengan golongan bawah yang dikisahkan dengan masyarakat kecil yang sulit untuk mencukupi kehidupannya. Sehingga bekerja sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK), tetapi golongan atas tidak mempedulikan hal tersebut dan menindas masyarakat  dengan menggunakan kekuasaannya,” ucapnya.

BACA JUGA: PGSD UPI Tempuh Akreditasi Internasional

Kedua, kata Fawzan, segi sosial budaya dalam naskah ini yaitu  kondisi sosial masyarakat yang digambarkan pada naskah ini adalah gambaran dari kondisi masyarakat daerah kumuh Jakarta pada saat itu, bahkan sampai sekarang. Jika ditinjau dari segi budayanya, keberadaan para PSK dan waria dianggap sebagai ‘penyakit masyarakat’.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: