Edukasi Video Lentera Jadi Solusi Cegah Pernikahan Dini di Tasikmalaya
Edukasi pencegahan pernikahan dini yang dihelat tim pengabdian dari Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya di Kecamatan Mangkubumi. istimewa for radartasik.com--
TASIKMALAYA, RADARTASIK.COM – Fenomena pernikahan dini masih menjadi isu serius yang mengancam masa depan remaja putri di Indonesia, termasuk di Kota Tasikmalaya.
Untuk menekan angka pernikahan usia anak, tim dari Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melakukan edukasi menggunakan media video bertajuk Lentera (Lawan Pernikahan Dini untuk Terangi Masa Depan Remaja).
Kegiatan ini berlangsung di Kelurahan Sambongjaya, Mangkubumi, Karikil Kecamatan Mangkubumi, pada 3-8 Mei 2025 melibatkan 96 remaja putri usia 11–15 tahun dari tiga kelurahan, yakni Sambongjaya, Mangkubumi, dan Karikil.
Ketua tim pengabdi, Bidan Wiwin Mintarsih Purnamasari SSiT MKes, menjelaskan bahwa penggunaan video sebagai media edukasi dipilih karena dinilai efektif dan sesuai dengan karakteristik remaja saat ini yang lekat dengan teknologi digital.
BACA JUGA:Truk Parkir Liar di Jalan Mashudi Tasikmalaya Telan Korban Jiwa, Warga Minta Penertiban
“Media video kami pilih karena remaja sekarang sulit terlepas dari gadget. Maka kami manfaatkan ini sebagai peluang untuk menyampaikan pesan penting tentang bahaya pernikahan dini melalui video edukasi berjudul Lentera,” ujarnya, Kamis 24 Juli 2025.
Menurut Wiwin, edukasi ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja putri agar mampu mengambil keputusan yang matang terkait pernikahan di usia yang sehat secara reproduksi, sesuai aturan hukum yakni minimal usia 19 tahun.
Video Lentera sendiri berisi informasi mengenai dampak negatif pernikahan dini dari sisi kesehatan, pendidikan, sosial hingga ekonomi, yang dapat diakses ulang oleh remaja melalui perangkat pintar masing-masing.
Wiwin menghelat kegiatan ini bersama Anggota Tim Pengabdi Ir ir Khairiyah, SST, M.Keb dibantu mahasiswa Nabila Naila Firdausi dan kawan-kawan.
BACA JUGA:Malut United Gercep! Kontrak Enam Pemain Baru Dalam Dua Hari, Duo Eks Persib Jadi Kekuatan Baru
Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta melalui pre-test dan post-test, dengan tingkat kepuasan tinggi: 74,4 persen peserta menyatakan sangat setuju, dan 25,6 persen setuju terhadap kegiatan edukasi ini.
Aqilla Rana Dhaffiyah (14), salah satu peserta, mengakui edukasi ini membuka matanya terhadap bahaya pernikahan dini.
“Saya baru tahu kalau menikah di bawah umur bisa berbahaya bagi kesehatan reproduksi. Terima kasih kepada ibu-ibu dosen yang sudah memberi edukasi ini. Semoga bisa diberikan juga ke teman-teman saya yang lain,” tuturnya.
Kegiatan ini juga dilaporkan kepada penanggung jawab program kesehatan remaja di Puskesmas setempat untuk menjadi bahan tindak lanjut dan pengembangan program serupa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: