Rusia Bombardir Ukraina, Indonesia Diusulkan Segera Lakukan APBN Perubahan
Jumat 25-02-2022,05:30 WIB
Reporter:
usep saeffulloh|
Editor:
Radartasik.com, Invasi Rusia ke Ukraina membawa dampak kepada ekonomi dunia. Terutama berimbas kepada sektor keuangan, termasuk Indonesia.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan,
invasi Rusia ke
Ukraina, tentunya akan berpengaruh pada perekonomian dunia, termasuk
Indonesia.
“Ketegangan antara
Rusia dan AS di
Ukraina dampak ke sektor
keuangan paling terasa ya,” kata Bhima Kamis (24/2/2022).
Bhima meminta agar pemerintah untuk melakukan
APBN perubahan untuk menyesuaikan kembali beberapa indikator asumsi pertumbuhan ekonomi, khususnya nilai tukar rupiah dan inflasi. Sebab, kenaikan inflasi nantinya dapat lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.
Bhima memaparkan, saat ini rupiah sudah bergerak di level Rp 14.500 per USD dan diperkirakan akan mendekati level Rp 15.000 per USD jika konflik eskalasinya semakin meluas dan melibatkan banyak negara.
“Jadi ini menimbulkan de stabilitas di kawasan dan tentunya ini akan merugikan prospek pemulihan dan stabilitas moneter yang ada di
Indonesia karena bertepatan dengan
tappering off dan juga kenaikan suku bunga yang terjadi di negara-negara maju,” jelasnya.
Selanjutnya, harga minyak mentah dalam asumsi makro ekonomi tercatat USD 63 per barel.
Saat ini, harga komoditas minyak mentah sudah tembus diatas USD 100 per barel. Artinya, gap antara harga minyak yang digarapkan dalam APBN maupun harga minyak mentah yg real di lapangan sudah terlalu jauh.
“Hal ini akan meningkatkan inflasi dan akan membuat biaya pengiriman barang biaya logistik akan jauh lebih mahal,” ucapnya.
Efeknya, harga kebutuhan pokok semakin meningkat disaat daya beli masyarakatnya semakin rendah. Sebab, efek terhadap subsidi di sektor energi akan membengkak cukup signifikan.
Pemerintah
Indonesia diminta harus segera melakukan
APBN perubahan untuk menyesuaikan kembali beberapa indikator tersebut, termasuk perlu melakukan antisipasi seperti tambahan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun ini.
Sebagian besar penggunaan dana PEN tersebut mencakup stabilitas harga pangan dan kenaikan harga energi ke depannya.
“Komponen anggaran Pen karena mengancam serius sekali pada stabilitas dan pemulihan ekonomi sepanjang 2022,” ujarnya. (jp)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: