RADARTASIK.COM - Manfaat puasa Ramadhan bagi imun bukan sekadar mitos, tetapi dibuktikan melalui berbagai mekanisme biologis yang bekerja alami di dalam tubuh.
Dr. Eric Berg, DC, seorang pendidik kesehatan, penulis, dan pakar terkemuka dalam Healthy Keto® dan puasa intermiten membahas mengenai hal ini di kanal pribadinya.
Sebagaimana kita tahu, puasa Ramadhan berlangsung selama 29 hingga 30 hari dengan pola menahan makan dan minum sejak fajar hingga matahari terbenam.
Menurut Dr. Eric Berg, model puasa ini termasuk puasa kering karena tidak ada asupan cairan selama periode tersebut.
Menariknya, dampak kesehatan puasa tidak hanya dipengaruhi oleh durasi menahan lapar, tetapi juga kualitas makanan saat sahur dan berbuka.
Banyak penelitian menunjukkan hasil berbeda karena pola makan tinggi gula dan karbohidrat olahan dapat mengurangi efek positif puasa.
Sebaliknya, konsumsi makanan utuh, rendah gula, dan seimbang membantu tubuh memaksimalkan adaptasi metabolik selama Ramadhan.
BACA JUGA:Ini Yang Terjadi Pada Tubuh Kita Saat Puasa Selama Bulan Ramadhan
Dari sudut pandang metabolisme, puasa mendorong tubuh menggunakan cadangan energi dan meningkatkan produksi keton yang bersifat antimikroba.
Kondisi ini berkontribusi pada efek puasa terhadap peradangan dengan menurunkan sitokin proinflamasi dalam tubuh.
Penurunan zat pemicu inflamasi tersebut membuat sistem imun bekerja lebih terkontrol dan efisien.
Selain itu, puasa merangsang aktivitas makrofag sebagai garis pertahanan pertama dalam melawan bakteri dan virus.
Makrofag bertugas menghancurkan patogen sehingga tubuh lebih siap menghadapi ancaman infeksi.
Semakin optimal kerja sel imun ini, semakin kuat pula respons perlindungan alami tubuh.
BACA JUGA:Panduan Aman Puasa Ramadhan untuk Penderita Maag agar Tetap Nyaman dan Produktif