Dengan perasaan orang lain sebagai fokus utama, teknologi menjadi lebih personal.
Ia membantu kita melihat refleksi diri: seberapa sering kita benar-benar mendengarkan orang lain.
Lewat analisis ekspresi, ai memperlihatkan bahwa memahami emosi bukan hal abstrak.
Empati bisa ditanamkan bahkan ke dalam sistem digital.
Dan di dunia yang sering sibuk berbicara, kemampuan mendengarkan justru menjadi superpower baru.
Empati Digital Dan Masa Depan Relasi Manusia
Hubungan manusia masa kini banyak terjadi di ruang digital.
Namun justru di sana, rasa bisa hilang jika tidak dijaga.
Dengan empati digital, kita belajar kembali bahwa teknologi seharusnya memperkuat, bukan menggantikan kehangatan.
Kecerdasan emosional kini menjadi kunci agar dunia digital tetap manusiawi.
Ai memberi kita pandangan baru: memahami bukan berarti menghakimi.
BACA JUGA:Seni Mengelola Perasaan Agar Tidak Mudah Tersinggung, Simak Pesan Gus Baha
BACA JUGA:Gunung dan Pantai Pelarian Stres, Efektif Bagi Anak Muda Untuk Meningkatkan Perasaan Tenang
Perasaan orang lain menjadi pintu menuju komunikasi yang lebih tulus.
Dan di masa depan, ai akan terus menjadi mitra yang mengajarkan bagaimana menjadi lebih peka — bukan lebih dingin.
Karena pada akhirnya, kemajuan sejati bukan tentang kecerdasan buatan, tapi tentang kemanusiaan yang diperluas.