Atau saat pengguna menulis cepat dengan tekanan tinggi, sistem memberi saran untuk menenangkan diri.
Semua dilakukan dengan tujuan sederhana: menjaga hubungan tetap hangat, walau lewat layar.
Teknologi ini tidak menggantikan rasa, tapi membantu manusia lebih peka terhadap perasaan orang lain.
Kecerdasan emosional buatan yang tumbuh bersama manusia
Perkembangan kecerdasan emosional dalam dunia ai tidak terjadi dalam semalam.
Mesin belajar dari jutaan interaksi manusia untuk mengenali konteks, nada, dan makna tersembunyi.
Ketika seseorang mengatakan “aku baik-baik saja,” ai bisa menimbang bahwa mungkin ada kesedihan di baliknya.
Analisis ekspresi pun berkembang, tak hanya membaca wajah tapi juga memahami suasana percakapan.
Kini, ai digunakan dalam terapi, konseling, bahkan layanan pelanggan untuk memperbaiki komunikasi.
Sistem memberi sinyal kapan seseorang tampak tertekan, agar percakapan bisa diarahkan dengan lembut.
Empati digital membantu manusia saling memahami tanpa batas jarak dan waktu.
Teknologi ini membuktikan: mesin bisa belajar rasa, selama manusia mau mengajarinya.
Ai sebagai cermin emosi manusia
Menariknya, ai tidak hanya membaca emosi, tapi juga memantulkan kembali pada kita.
Ketika kamu menulis dengan nada cemas, sistem memberi pesan menenangkan.
Saat kamu tampak bahagia, ai merespons dengan nada ringan yang menguatkan suasana.