PANGANDARAN, RADARTASIK.COM – Permasalahan sampah plastik di laut semakin menghantui nelayan Pangandaran.
Setiap kali menarik jala, hasil tangkapan mereka kerap bercampur dengan plastik kresek, botol air mineral, potongan styrofoam, hingga bungkus mi instan.
“Sekarang melaut itu bukan hanya soal cari ikan, tapi juga perang lawan sampah,” kata Dedi (46), nelayan asal Pangandaran, Senin 8 September 2025.
Dedi mengungkapkan, sampah yang menumpuk di laut telah mengganggu ekosistem.
BACA JUGA:DPRD Soroti Revitalisasi PJU di Tasikmalaya, Minta Data Valid Sebelum Ganti ke Lampu LED
Terumbu karang yang menjadi rumah ikan banyak tertutup sampah, membuat populasi ikan berkurang.
“Dulu sekali melaut bisa penuh satu perahu, sekarang setengahnya pun susah,” terangnya.
Hampir semua nelayan di Pangandaran mengalami hal serupa.
Waktu mereka semakin habis hanya untuk memilah ikan dari jeratan sampah, sementara pendapatan kian tertekan.
BACA JUGA:Lewat Sertifikasi Guru dan Pembangunan Karakter Siswa, BNI Perkuat Pendidikan NTB
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2023 mencatat Pangandaran menjadi titik kedua dengan kelimpahan mikroplastik tertinggi di Indonesia, yakni 45 meter kubik.
Angka ini hanya kalah dari Pantai Batu Belig, Bali (91,22 meter kubik).
Masalah ini ironis, mengingat Pangandaran merupakan destinasi wisata andalan Jawa Barat.
Jika sampah terus dibiarkan, nelayan khawatir hasil tangkapan semakin menurun dan wisatawan enggan datang karena laut kotor.
BACA JUGA:Early Warning System Perkuat Kerukunan Umat Beragama di Kota Tasikmalaya