الطِّيَرَةُ شِرْكٌ وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
”Thiyarah itu syirik. Tidaklah di antara kita kecuali beranggapan seperti itu. Tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal.”
Dalam hadis lain, ketika wabah berjangkit di suatu daerah, Rasulullah menganjurkan untuk menghindari daerah tersebut sebagai ikhtiar agar penyakit tersebut tidak meluas ke daerah lain. Ini adalah manifestasi dari tawakal.
BACA JUGA: PNM Buka Loker Baru Bagi Lulusan SMA untuk Penempatan Wilayah Tasikmalaya
Beliau bersabda,
وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ
”Menjauhlah (menghindarlah) dari penyakit kusta sebagaimana engkau menjauh dari singa.” (HR Al-Bukhari).
Allah juga berfirman,
وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
”Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS Al-Baqarah [2]: 195).
Mengenai suara burung ataupun binatang lain yang terdengar di sekitar suatu rumah yang dianggap bahwa penghuni rumah itu akan ditimpa kesialan dan musibah, Rasulullah juga menepis keyakinan ini karena burung adalah ciptaan Allah yang tidak memiliki campur tangan dalam urusan ketetapan takdir-Nya.
Demikian juga menganggap sial pada bulan-bulan tertentu seperti bulan Safar. Kaum jahiliah menganggap sial bulan Safar karena mereka mempercayai pada bulan Safar banyak berjangkit penyakit yang bersarang di dalam perut akibat sejenis ular yang berbahaya.
BACA JUGA: Teras Kaca Jogja Destinasi Wisata Instagramable di Pantai Nguluran
Ini dianggap sebagai hukuman dari Allah kepada manusia.
Karena itu, Safar dianggap sebagai bulan yang penuh keburukan.
Dengan demikian, mereka tidak meminang dan menikah, khitan, juga kegiatan lainnya meskipun itu penting untuk mereka lakukan.