Hukuman Goreng

Jumat 06-01-2023,05:30 WIB

Saya bukan alumnus UT, tapi ibu saya pernah menjadi mahasiswi UT, dulu. Sudah lama sekali. Ada banyak modul pembelajaran yang didapat. Belajarnya di rumah, secara mandiri. Saat membahas "Merdeka Mengajar", yang katanya guru tak lagi wajib membuat RPP, cukup membuat sebuah modul. Kawan saya yang seorang guru itu menyebutkan bahwa modul pembelajaran terbaik adalah modul UT. Kalau mau membuat modul pembelajaran, contohlah modul UT. Memang, mereka sudah sangat berpengalaman puluhan tahun dalam penyusunan materi ajar. UT mantap! Semoga program-program Bapak rektor tercapai.

AnalisAsalAsalan

"Di mana ada kemauan, di situ ada jalan," kata pepatah. Jurusan teknik di UT? Mengapa tidak? Total praktikum S1 berapa kali sih? Paling sepuluh (10) kali. Kerja sama saja dengan kampus teknik di daerah terdekat. Namun, harus efektif dan efisien. Caranya: 1. Mahasiswa UT sudah melihat simulasi praktikum sebelumnya, bisa lewat software -- kalau ada -- atau video praktikum yang dibuat oleh asisten. Dengan demikian saat datang sudah separuh paham prosedur dan outputnya. 2. Waktunya saat kampus teknik terdekat liburan. Kalau mau efisien lagi, 2-3 praktikum dalam satu kali waktu liburan. 3. Mahasiswa teknik UT otomatis harus diseleksi, yang rumah/kosnya tidak jauh dari kampus rekanan. Perlahan-lahan UT bikin sendiri lab. Tentu ada skala prioritas, jurusan teknik apa yang dibuat dulu. Masalahnya di akreditasi. Seharusnya rendah (atau ditolak?) kalau tidak punya lab sendiri. Pimpinan UT bisa mengajukan klausul khusus untuk UT. Demikian usulan saya. Semoga bermanfaat. Amin.

Udin Salemo

Dari sudut pandang marketing UT ini layak punya tagline "Kami sudah berbuat sebelum yang lain memikirkannya." Ini terkait pembelajaran jarak jauh yang sudah dijalani UT sejak mulai berdiri. Tapi tagline itu akan kelihatan cupu bila disandingkan dengan Semen Padang. Semen Padang sudah menggunakan tagline itu jauh sebelum UT berdiri, bahkan sebelum UT ada dalam alam fikiran pendirinya. :) Semen Padang sudah berproduksi sejak 1910. Kalau mau ke kota Sanggau/ Enaknya jalan di malam hari/ Pendidikan murah dan terjangkau/ UT sudah memulainya sejak jauh hari/ #everyday_berpantun

Komentator Spesialis

Buat saya sekolah online ini bukan hal yang baru. Bahkan jauh sebelum masa pandemi, anak anak sudah saya sekolahkan online. Sungguh efisien dan efektif. Waktu tidak habis wira wiri untuk datang ke sekolah. Yang jelas potensi tawuran anak antar sekolah nihil. Orang tua juga tidak disibukkan dengan kegiatan persatuan orang tua murid. Sehingga waktunya bisa dimanfaatkan untuk belajar agama yang lebih dalam, belajar memulai bisnis dll. Kuncinya bisa dapat paket C dulu. Ini cukup belajar 1 tahun efektif lewat bimbel online. Lulus paket C, universitas ada buanyak pilihan. Dari universitas dalam negeri sampai manca negara. Kebetulan kami pilih International Open University (IOU). Universitas besutan Dr. Bilal Philips. Saat ini punya hampir 300 ribu mahasiswa di 224 negara. Termasuk Indonesia ada banyak mahasiswa. Kalau tidak salah juga sudah terakreditasi mendikbud. Ada acara kopdar ketemu darat pula untuk kuliah. Ujian ada lokasi exam center yang sudah ditentukan. Itu semua sudah saya lakukan sebelum masa pandemi. 

Komentator Spesialis

Pertama kita harus merubah mindset. Jaman saya sekolah dulu, sekolah adalah identik untuk cari kerja. Maklum saat itu tuntutan ekonomi keluarga lebih dominan. Harusnya, sekolah itu untuk cari ilmu. Disamping cari relasi atau teman bergaul. Bicara dalam tataran ini, maka opsi sekolah online atau online tersedia. Tinggal dikaji mana yang efisien dan efektif dari sudut ilmu yang didapat, waktu dan biaya.

Kalender Lengkap

Untuk praktikum, bisa pakai metaverse. Jadi laboratoriumnya di bangun di dunia maya. Untuk tahap ujicoba, praktikumnya yang sederhana aja dulu. 

amir faisol

Saya termasuk angkatan pertama di UT. Betul mutu sangat dijaga. Sampai ujian akhir harus saya tempuh dua kali baru lulus. Belajar agak lama karena bayar kuliah gantian sama anak yg di Universitas Negeri bukan UT. Terima kasih UT. Sukses selalu.

Saifudin Rohmaqèŕqqqààt

Sebenarnya mau kuliah atau tidak, sama saja. Karena sejatinya manusia butuh ilmu. Ilmu apa? Yaitu ilmu kebahagiaan. Bagaimana diri kita bisa bahagia. Contoh nyata, ada kawan mau cerai karena kasus selingkuh. Kawan saya itu sedih sekali dan menderita. Kemudian kita kasih ilmu bahagia. Yaitu mengubah masalah menjadi keuntungan. Dicoba dipraktekkan setiap hari. Praktek pun gratis, wong cuma mensugesti dirinya. Setelah beberapa minggu, apa yang terjadi? Kawan yang mau bercerai itu bilang sendiri, saya bersyukur dengan adanya kasus ini, ternyata kasus itu memberi banyak pelajaran kehidupan yg selama ini tidak didapatkan. Dapat kasus pusing, diubah menjadi rasa syukur. Dengan teori ilmu kebahagian.

Jhelang Annovasho

Kategori :