Airlangga Tegaskan Indonesia Perkuat Ekonomi lewat Pangan, Energi, dan Transformasi Digital
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan arah penguatan ekonomi Indonesia melalui transformasi digital dan energi.-Ekon.go.id -
RADARTASIK.COM - Pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi nasional dengan mendorong kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan transformasi digital di tengah ketidakpastian global yang dipengaruhi dinamika geopolitik, perubahan iklim, serta perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Dilansir dari laman ekon.go.id, komitmen tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keynote speech dalam Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomatic Breakfast bertema Beyond Uncertainty: Building Indonesia’s Next Economy di Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026.
Airlangga menilai tantangan terhadap rantai pasok dan lapangan kerja akan terus berkembang seiring percepatan adopsi teknologi.
"Ke depan, berarti juga akan banyak tantangan dalam rantai pasok serta lapangan kerja. Namun, di bawah arahan Presiden Prabowo, saya pikir adopsi teknologi selaras dengan fokus kemandirian sumber daya Indonesia dalam memajukan kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan sejalan dengan roadmap transformasi digital yang jelas," kata Airlangga.
Indonesia dinilai memiliki modal besar berupa sumber daya mineral yang melimpah, populasi muda yang akrab dengan teknologi, serta pembangunan infrastruktur digital yang terus berkembang.
Potensi tersebut juga diperkuat dengan pengembangan ekosistem pengemasan semikonduktor, fasilitas pengujian, hingga AI data center.
Berdasarkan data KORIKA, Indonesia menjadi pasar AI terbesar keempat di Asia setelah Tiongkok, India, dan Jepang dengan nilai sekitar USD70 miliar atau setara 6,4 persen dari potensi pasar AI regional.
Infrastruktur Digital dan Energi Jadi Penopang Ekonomi Baru
Airlangga menjelaskan Indonesia saat ini memiliki 182 data center yang sebagian besar berada di Jakarta dan Batam.
Kebutuhan listrik untuk menopang pengembangan AI akan dipenuhi melalui perluasan pemanfaatan energi terbarukan yang ditargetkan mencapai kapasitas hingga 100 GW dalam beberapa dekade mendatang.
"Dari fiber optic itu kita punya landing point ke regional countries, seperti dengan Singapura itu akan ada peresmian juga kerja sama landing point yang poin ke-3 atau ke-4 di Batam dan Singapura. Di samping itu, kita juga punya landing point di Bitung untuk ke Amerika, jadi itu sangat potensial untuk pengembangan data center," ungkap Menko Airlangga.
Pemerintah juga telah meluncurkan program Biodiesel B50 sebagai upaya mengurangi emisi karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Implementasi B50 disebut mampu menghemat devisa hingga Rp177 triliun dan menekan emisi karbon sekitar 44 juta ton setiap tahun.
Di sektor industri, pemerintah menargetkan kemandirian produksi chip semikonduktor melalui penguatan desain chip serta kemampuan Perakitan, Pengujian, dan Pengemasan (ATP) di dalam negeri.
Permintaan global terhadap produk semikonduktor diperkirakan menembus USD1 triliun pada 2030 sehingga menjadi peluang besar bagi Indonesia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: