Pedestrian Cihideung Tasikmalaya Diduga Langgar Sempadan Sungai, Estetika Kota Dipertaruhkan
Suasana lengang di pedestrian Cihideung, Kota Tasikmalaya, Rabu malam 30 Juli 2025. ayu sabrina / radar tasikmalaya--
TASIKMALAYA, RADARTASIK.COM – Proyek pedestrian Cihideung yang semula digadang sebagai ikon baru Kota TASIKMALAYA kini menuai sorotan.
Dugaan pelanggaran tata ruang mencuat setelah ditemukan aliran air aktif di bawah trotoar, memunculkan pertanyaan apakah pedestrian bernilai miliaran rupiah itu dibangun di atas sempadan sungai?
Radar Tasikmalaya melakukan penelusuran ke lokasi pada Rabu malam 30 Juli 2025.
Di sepanjang jalur pedestrian, tampak grill besi bertuliskan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Tasikmalaya, beberapa bahkan ditutup karung dan pot tanaman besar.
BACA JUGA:Harga BBM Turun Mulai 1 Agustus 2025, Pertamina Sesuaikan di Seluruh SPBU Indonesia
Saat dibuka, terdengar suara deras aliran air dari dalamnya. Penerangan memperlihatkan saluran air aktif mengalir tepat di bawah lantai pedestrian.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan pedestrian dibangun di atas aliran sungai atau saluran air utama kota, yang secara aturan masuk dalam kategori sempadan sungai.
Jika benar, hal ini melanggar ketentuan tata ruang yang berlaku.
Peraturan Menteri PUPR Nomor 28/PRT/M/2015 menyatakan bahwa sempadan sungai di wilayah perkotaan minimal harus berjarak 3 meter dari tepi luar palung sungai.
BACA JUGA:Rotasi Pejabat Pemkot Tasikmalaya Menguat, Publik Tantang Viman-Diky Jaga Profesionalisme
Pasal 15 dan 20 menegaskan bahwa pembangunan di atas sempadan hanya diperbolehkan dengan izin resmi, dan bangunan permanen yang terlanjur berdiri di atasnya wajib ditertibkan.
Namun hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Tasikmalaya, Hendra Budiman, belum memberikan klarifikasi terkait legalitas pembangunan pedestrian Cihideung yang berdiri di atas saluran air tersebut.
Kawasan pedestrian Cihideung sebelumnya dikenal sebagai bagian dari revitalisasi wajah kota, lengkap dengan ornamen kelom geulis raksasa dan lampu-lampu etnik.
Proyek ini digadang-gadang menjadi Malioboro-nya Tasikmalaya, dan difungsikan untuk mendongkrak sektor UMKM, wisata, hingga kebanggaan kota.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: