Bahasa Isyarat sebagai Jembatan: Menilik Pendidikan Tuli di Kota Tasikmalaya

Bahasa Isyarat sebagai Jembatan: Menilik Pendidikan Tuli di Kota Tasikmalaya

Nurul Fadilah SPd, saat menjadi translater bahasa isyarat dihadapan disabilitas penyandang tunarungu pada acara OJK Peduli di SLB Lestari, Jumat 23 Mei 2025. ayu sabrina b / radar tasikmalaya--

TASIKMALAYA, RADARTASIK.COM - Di balik senyapnya komunikasi komunitas Tuli, tersimpan perdebatan hangat yang tak sekadar soal bahasa, melainkan juga tentang identitas, hak, dan tantangan pendidikan. 

Di Kota Tasikmalaya, perdebatan itu berkisar pada dua sistem bahasa isyarat yang sering diperdebatkan: Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan bahasa isyarat Indonesia (BISINDO).

Di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tamansari, suara guru dan peserta didik mewarnai diskusi tentang mana yang lebih efektif dan relevan di dunia pendidikan dan interaksi sosial. 

Muhammad Arief Ridwan, SPd, guru di SLB tersebut, mengungkapkan realitas di lapangan. 

BACA JUGA:300 Calon Jemaah Haji Kota Tasikmalaya Resmi Diserahkan ke PPIH Embarkasi Bekasi, Diky Chandra Berpesan ......

“SIBI memang masih digunakan secara formal, tapi banyak siswa, terutama di jenjang SMP dan SMA, merasa kurang nyaman dan lebih memilih BISINDO karena sudah terbiasa di komunitas,” paparnya kepada wartawan, Jumat 30 Mei 2025.

Perbedaan antara SIBI dan BISINDO bukan hanya soal teknik isyarat, tapi juga filosofi dan pengalaman sosial yang menyertainya. 

SIBI, yang dikembangkan pemerintah sejak 1981, menyesuaikan dengan tata bahasa Indonesia secara manual dan banyak dipakai dalam pendidikan formal serta acara resmi. 

Sebaliknya, BISINDO tumbuh secara alami di komunitas Tuli, menggunakan dua tangan, lebih ekspresif dan dinamis, dan tidak terikat pada kaidah bahasa Indonesia lisan.

BACA JUGA:Kampung Persib di Tasikmalaya: Tumpengan Sepanjang Gang Rayakan Kemenangan Maung Bandung

Silmi Azizah Tajriani, SPd, juga menggarisbawahi pentingnya konteks penggunaan bahasa isyarat. 

“Di sekolah, SIBI memang menjadi standar karena harus sesuai kurikulum. Namun, di komunitas, BISINDO jauh lebih efektif untuk komunikasi sehari-hari. Kedua bahasa ini sebenarnya bisa saling melengkapi agar pesan tersampaikan secara optimal,” jelasnya.

Dilema penggunaan bahasa isyarat ini menjadi tantangan bagi guru SLB yang harus menyeimbangkan kebijakan nasional dan kebutuhan murid. 

Nurul Fadilah, SPd, menekankan bahwa guru harus adaptif dan peka terhadap kebutuhan komunikasi siswa. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait