Inovatif, Tiga Siswa Mengubah Bunga Pala Menjadi Sabun, Dapat Medali Emas Sains Project ASEAN

Inovatif, Tiga Siswa Mengubah Bunga Pala Menjadi Sabun, Dapat Medali Emas Sains Project ASEAN

Radartasik.com, Tiga siswa ini sukses meraih medali emas di ajang Sains Project ASEAN pada Februari lalu. Mereka sukses mengangkat potensi rempah ke panggung internasional. 


Tiga siswi SMA Al Hikmah, Surabaya ini juga mengharumkan nama Indonesia. Sabun antibakteri dari bunga pala buatan mereka berhasil meraih medali emas di ajang Sains Project ASEAN.

BAUNYA khas, mirip minyak telon. Bentuknya pun lucu. Pipih layaknya permen setrip. Ukurannya yang hanya 5 cm x 2 cm sekilas bukan seperti sabun. Apalagi dikemas dalam wadah yang unik. Konsepnya memang dibuat praktis sehingga bisa masuk saku baju atau celana.

Produk inovasi siswi SMA Al Hikmah itu memiliki sensasi dingin di tangan. Padahal, tidak ada kandungan mint di dalamnya. Rasa dingin tersebut diperoleh dari ekstrak bunga pala atau dikenal fuli pala.

Inovasi yang digagas para siswa itu berawal pada Juli tahun lalu. Tepatnya saat ada mata pelajaran karya ilmiah. Para siswa dituntut membuat proyek ilmiah pada akhir semester.

Satu kelompok tiga orang. Anggotanya adalah Azhura Himmatana Viandyra, Tanaya Sausan Havi, dan Kaisa Sabila Rahma.

Saat dikunjungi, lab kimia SMA Al Hikmah Senin (21/3/2022), Kaisa Sabila Rahma sedang sakit. Dibantu rekannya, Azhura dan Tanaya, cekatan menakar bahan yang dibuat menjadi sabun, termasuk menyiapkan ekstrak fuli pala.

Sabun yang dinamai Cantics itu memang berbahan utama ekstrak bunga pala. Sisanya bahan lain seperti pembuatan sabun pada umumnya. Yakni, NaOH, asam stearat, dan gliserin. Proses pembuatannya tidak begitu rumit. ”Yang lama itu proses penelitian kandungan dari bunga pala,'' kata Azhura.

Tiga siswi kelas XI IPA XI itu butuh tiga bulan untuk membuat serangkaian penelitian. Gagasan dan proposal mulai disusun pada Juli. Kemudian, dilanjutkan dengan memastikan kandungan bunga pala. Termasuk mengkaji efektivitasnya dalam menangkal bakteri. Terutama yang berada di telapak tangan.

Sebab, inovasi tersebut dibuat sebagai alternatif pengganti hand sanitizer. Karena itu, produk dibuat setipis dan sekecil-kecilnya.

Menurut Tanaya, bunga pala digunakan bukan tanpa alasan. Selain rempah asli Indonesia, kandungan bunga pala kurang banyak dimanfaatkan. Padahal, manfaatnya melimpah. ”Selama ini kan yang dimanfaatkan hanya biji pala,” ucapnya.

Produk sabun baru jadi Januari lalu. Tentu ada kendalanya juga. Salah satunya soal tempat uji klinis. Tidak semua laboratorium menerima hasil uji ekstrak bunga pala. Terlebih pada saat pandemi Covid-19.

Namun, tekad ketiga siswi mengalahkan semua hambatan. Beberapa kali uji coba dilakukan. Hingga kemudian menghasilkan produk yang bisa dibilang sempurna. Sebab, selain praktis, juga mampu melawan bakteri. Hal itu sesuai dengan hasil uji klinis yang mereka lakukan.

Menurut Azhura, uji klinis dilakukan dengan mengambil sampel bakteri yang berada di telapak tangan. Kemudian, diberikan kandungan yang terdapat pada sabun. Hasilnya, bakteri tersebut menjauh.

Melihat itu, Nur Chamimmah, guru kimia SMA Al Al Hikmah, mencoba mengikutkan lomba. Tepatnya pada Februari kemarin di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Dalam kompetisi Sains Project ASEAN. ”Ini diikuti 33 negara,” ucap Elly, sapaan akrab Nur Chamimmah.

Kompetisi sains itu dilakukan secara offline dan online. Khususnya peserta dari negara ASEAN lainnya. Total ada 200 peserta. Termasuk yang dari Indonesia. Ada beberapa kategori yang dilombakan. Salah satunya kategori inovatif sains.

Bersaing dengan negara lain membuat Azhura, Tanaya, dan Kiasa tidak keder. Alhamdulillah, kata Azhura, hasil inovasinya mampu memperoleh medali emas kategori inovatif sains. ”Kami hanya mendampingi soal proposal, ide dan gagasan dari anak-anak,” kata Elly. (jp)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: