Pendeta Saifuddin Minta 300 Ayat Al Qur’an Dihapus, Kemenag Respons Begini
Kamis 17-03-2022,05:20 WIB
radartasik.com, JAKARTA — Kementerian Agama menyesalkan pernyataan Pendeta Saifuddin Ibrahim yang membawa nama Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam sebuah video.
Dia menyinggung masalah kurikulum pesantren dan mengaitkannya dengan radikalisme, serta usulan menghapus
300 ayat Al-Qur'an.
Merespons video tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kemenag Thobib Al Asyhar menegaskan
Menag Yaqut tidak kenal dengan
Pendeta Saifuddin Ibrahim.
”Selama ini tidak pernah ada pertemuan resmi antara Gus Menteri (
Menag Yaqut) dengan
Pendeta Saifuddin,” kata Thobib dikutip dari laman Kemenag, Rabu (16/3/2022).
Thobib juga tidak menemukan dalam buku catatan tamu terkait agenda pertemuan
Menag Yaqut dengan
Pendeta Saifuddin.
Menurut dia,
Menag Yaqut tidak pernah mendengar apa yang diklaim
Pendeta Saifuddin berulangkali dikatakan kepada
Menag.
Thobib menyayangkan pernyataan
Pendeta Saifuddin yang sudah tersebar di publik. Dia menilai apa yang disampaikan
Pendeta Saifuddin terkait pesantren dan ayat Al-Qur'an itu salah.
”Tidak pada tempatnya
Pendeta Saifuddin mengeklaim pesantren melahirkan kaum radikal,” ucapnya.
Menurut dia,
Pendeta Saefuddin lupa bahwa Menteri Yaqut terlahir dari lingkungan pesantren dan keluarganya memiliki pesantren.
Tentu saja
Menag tidak setuju dengan pernyataan
Pendeta Saifuddin. Sebab,
Menag menjadikan kemandirian pesantren sebagai salah satu program prioritasnya.
Thobib juga menilai pernyataan
Pendeta Saifuddin tentang ayat-ayat Al-Qur'an itu salah. Al-Qur'an adalah kitab suci yang diyakini sempurna oleh umat Islam.
Tidak pada tempatnya tokoh agama mengeluarkan statement terkait kitab suci umat lain, apalagi dengan cara yang bisa menyinggung.
Gus Menteri, kata dia, selama ini terus mengajak tokoh agama untuk tidak menyampaikan pendapat, apalagi di muka umum, yang bukan menjadi kompetensinya.
Para tokoh agama, termasuk
Pendeta Saifuddin, mestinya lebih mengedepankan usaha untuk merajut kerukunan. ”Gus Menteri selama ini terus mengajak tokoh agama menjaga kerukunan,” terang Thobib.
Kementerian Agama, tambahnya, sedang terus berupaya meningkatkan kualitas kerukunan antarumat beragama, antara lain melalui program penguatan moderasi beragama.
Statement
Pendeta Saifuddin tidak sejalan dengan program Gus Menteri dalam memimpin Kemenag.
”Saya melihat, apa yang dilakukan
Pendeta Saifuddin justru bisa mengganggu kerukunan antarumat dan upaya menguatkan moderasi beragama,” kata dia.
(esy/jpnn)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: