Setelah Diusir DPR, Dirut Krakatau Akan Dipanggil Ulang, Ini Alasannya..
radartasik.com - Komisi VII DPR RI akan memanggil ulang Direktur Utama (Dirut) Krakatau Steel Silmy Karim dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP).
Pemanggilan itu untuk melanjutkan rapat kemarin yang belum berakhir dengan kesimpulan.
“Ini kelanjutan kemarin yang berakhir tanpa kesimpulan rapat,” kata Wakil Ketua Komisi VII DPR, Edy Soeparno di Komplek Senayan Jakarta, Selasa (15/02/22).
Kendati demikian, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu belum bisa memastikan kapan panggilan ulang dengan Silmy Karim.
“Tentu kita akan agendakan kembali rapat tersebut,” ungkap Edy.
Sebelumnya, Komisaris Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) Roy Maningkas tak terima Dirut Krakatau Steel Silmy Karim diusir Komisi VII DPR.
Roy Maningkas pun menyinggung Ketua Komisi VII DPR RI, Bambang Haryadi.
Menurutnya, Bambang Haryadi sejatinya tak banyak tahu soal capaian Krakatau Steel beberapa tahun ini.
“Bambang Haryadi itu hanya tahu sedikit soal transformasi Krakatau Steel,” kata Roy kepada wartawan, Senin (14/02/22).
Bambang Haryadi juga disebut Roy Maningkas tak tahu bahwa Krakatau Steel di bawah Dirut Silmy Karim, bisa membalikkan keadaan dalam tiga tahun terakhir.
“Dari 8 tahunan rugi sekarang sudah 2 tahun terakhir profit (untung),” ungkapnya.
Roy juga sangat menyesalkan pernyataan Bambang Haryadi yang menurutnya asal bicara.
Bahkan, ia tak yakin jika Krakatau Steel dipimpin Bambang sekalipun juga tak akan bisa menyamai kondisi saat ini.
“Coba kalau Pak Bambang yang terhormat yang jalanin Krakatau Steel. Saya mau lihat bisa berhasil atau tidak?” lanjutnya.
Roy menilai, sebutan maling teriak maling yang diungkap Bambang Haryadi juga merupakan tuduhan tanpa bukti.
“Bukan hanya nggak etis, tapi juga melakukan pencemaran nama baik pada orang-orang yang sudah bekerja keras memperbaiki Krakatau Steel,” kecamnya.
Soal blast furnace, Bambang disebut Roy juga salah sasaran sebab karena itu terjadi pada manajemen sebelum Dirut Krakatau Steel Silmy Karim.
“Proyek blast furnace itu dimulai sekitar 2012-2013, jauh sebelum manajemen di bawah Pak Silmy masuk,” katanya.
“Justru manajemen sekarang cuci piring kok malah bilang maling teriak maling?” heran dia.
Roy Maningkas kemudian menjelaskan dirinyalah yang meminta Menteri BUMN menghentikan produksi blast furnace.
Menurutnya, jika produksi blast furnace diteruskan, Krakatau Steel akan terus merugi.
“Saya orang yang meminta Menteri BUMN waktu itu dan manajemen untuk berhentikan produksi blast furnace karena kalau diteruskan Krakatau Steel akan potensi rugi Rp1,1-1,3 triliun setahun,” katanya.
“Tapi kementerian BUMN yang lama waktu itu tetap memaksa jalan, jadi kebijakan manajemen untuk menghentikan blast furnace sudah benar, menyelamatkan uang negara triliunan rupiah,” jelasnya dilansir detikcom. (pojoksatu)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: