Jurus RK Bikin Warga Jabar Puas
Kamis 10-02-2022,13:45 WIB
Reporter:
andriansyah|
Editor:
radartasik.com, - Warga Jawa Barat (Jabar) mengaku puas dengan hasil kinerja Ridwan Kamil khususnya dalam menangani pandemi Covid-19. Hal ini diketahui berdasarkan hasil survei Indonesian Politics Research & Consulting (IPRC) selama periode 16-25 Desember 2021.
Survei tersebut dilakukan kepada 1.200 orang di 27 kabupaten/kota di Jabar. Survei dengan metode multistage random sampling. Sementara, margin of error rata-rata sebesar A± 2,87 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Direktur OpeArasional dan Data Strategis IPRC Idil Akbar mengatakan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Gubernur Jabar mencapai 83,4 persen.
“Sementara dalam penanganan pandemi Covid-19, tingkat kepuasan masyarakat berada di angka 84,5 persen,” ujar Idil, dalam rilis temuan survei Evaluasi Program dan Kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Masa Pandemi Covid-19, di Hotel De Pavilijoen Bandung, Selasa (8/2/2022).
Idil memaparkan ada beberapa isu yang dinilai paling berhasil oleh masyarakat Jabar. Di antaranya, pembangunan infrastruktur dengan 17 persen, pembangunan dan perbaikan jalan (15,3 persen), dan bantuan sosial (14,6 persen).
“Namun masyarakat juga menilai Pemprov Jabar kurang berhasil dalam menjaga harga kebutuhan pokok yang masih terhitung mahal. Tak hanya itu, angka pengangguran dan kemiskinan pun bertambah di masa pandemi sekarang ini,” ungkap Idil.
Pemprov Jabar pun, diutarakan Idil, dianggap kurang dalam melakukan sosialisasi program-program unggulannya. Program yang masyarakat tahu adalah Magrib Mengaji (36,1 persen), sementara yang belum cukup diketahui adalah Kredit Mesra (4,9 persen).
“Mayoritas masyarakat Jabar menilai bahwa kondisi ekonomi dan politik masih berjalan normatif atau sedang. Sementara terkait keamanan, penegakan hukum dan pencegahan dan pemberantasan korupsi di Jawa Barat dinilai sudah baik,” papar Idil.
Di tempat sama, Direktur Riset IPRC Leo Agustino menambahkan ada anomali menarik dari hasil survei ini. Meski masyarakat puas dengan kinerja Ridwan Kamil dalam memimpin Jabar, namun hal itu tak seiring dengan elektabilitas dirinya, utamanya jelang Pemilihan Presiden 2024.
“Di satu sisi kinerja gubernur diapresiasi dengan nilai yang sangat tinggi, namun elektabilitas RK (Ridwan Kamil) belum optimal, baik untuk RI 1 (calon presiden), RI 2 (calon wakil presiden) maupun Jabar 1,” imbuhnya.
Dalam simulasi terbuka, Ridwan Kamil berada di peringkat pertama dengan 9,2 persen. Disusul Prabowo Subianto (8,3 persen), Anies Baswedan (4,2 persen), dan Ganjar Pranowo (2,7 persen). Meski memiliki angka cukup tinggi, hal ini dianggap belum optimal.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ini terjadi. Seperti undecided voters yang masih tinggi, karena keputusan RK untuk maju sebagai capres tidak tersosialisasi secara masif dan belum memiliki partai pendukung. “Terlebih, pemilih tidak jarang mengasosiasikan tokoh dengan partai,” kata Leo.
Faktor lainnya adalah klaster megapolitan dikuasai Anies Baswedan, sementara klaster Priangan barat dikuasai Prabowo Subianto. Kemudian, kepuasan masyarakat terhadap bidang ekonomi yang rendah. Terakhir, pengenalan program unggulan Jabar yang masih minim di masyarakat.
“Masih ada waktu bagi RK untuk mengoptimalkan elektabilitasnya mengingat pemilihan masih akan berlangsung sekitar dua tahun lagi,” pungkas Leo.
Ciptakan Program Studi Kekinian
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menginginkan kepada civitas akademi di setiap perguruan tinggi di Jawa Barat membuka prodi-prodi yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Menurut Ridwan Kamil, di era transformasi digital mahasiswa harus dibekali dengan program-program digital marketing, teknologi media sosial atau ilmu yang disesuaikan dengan revolusi 4.0.
Program studi kekinian ini layak diadakan oleh setiap perguruan tinggi. Mengingat peluang kerja ke arah revolusi digital semakin terbuka lebar dan sangat dibutuhkan ke depannya.
”Jadi saya berharap untuk para dosen di perguruan tinggi se-Jabar dapat menyiapkan skema terbaik saat memberikan pembelajaran,”kata Ridwan kamil dalam keterangannya, di Kota Bandung, Selasa (9/2/2022).
Dia menilai, di masa yang akan datang seorang pengajar bukan saja menjadi distributor ilmu, tetapi harus mampu memilah ilmu untuk diberikan kepada mahasiswanya.
Revolusi digital dengan ekonomi 4.0, sangat memungkinan dapat merubah pola hidup manusia. Sehingga, kondisi ini harus segera direspon dengan cepat dan langsung beradaptasi.(tur/red)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: