Saat di DPR Jenderal Andika Sebut Harus Siap Hadapi Eskalasi di Papua
Radartasik.com - DPR RI melalui Rapat Paripurna baru saja mengesahkan Jenderal Andika Perkasa sebagai calon Panglima TNI. Meskipun hanya akan bertugas selama 13 bulan, Komisi I DPR meyakini bahwa Andika dapat bekerja maksimal.
“Walaupun banyak yang mempertanyakan karena masa dinasnya tinggal 13 bulan lagi, akan tetapi bukan berarti Jenderal Andika Perkasa tidak mampu menjalanankan tugas dan fungsinya,” ujar Anggota Komisi I DPR Dave Laksono kepada wartawan, Selasa (9/11).
Saat uji kelayakan, Dave mengungkap, Andika memaparkan visi misinya dengan judul 'TNI adalah Kita'. Ini merupakan judul yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam dan juga nilai yang luas.
“Beliau konsen terhadap hal-hal apa saja yang menjadi tantangan ke depan, seperti isu-isu hankam. Yang paling berat saat ini untuk internal adalah masalah Papua tentunya,” ungkapnya.
Menurut Dave, dalam uji kelayakan kemarin, Andika banyak memaparkan tentang isu Papua, bahkan hal itu dibahas melebihi waktu yang diberikan.
Menurut pemaparan Andika, Indonesia harus tetap bersiap mengenai eskalasi di Papua, sehingga pendekatan militer diperlukan karena tingginya ancaman dan potensi serangan.
“Berarti masih ada yang mensuplai senjata, peluru dan juga termasuk suplai dana. Mereka yang mensuplai itu semua juga berasal dari dalam. Jadi, ada juga kasus korupsi yang (uangnya) digunakan untuk membiayai pertempuran di Papua. Ini membuat permasalahan jadi berlarut-larut tak ada hentinya,” katanya.
Oleh karena itu, kata legislator Partai Golkar ini, yang menjadi salah satu kebijakan Andika adalah melakukan penempatan prajurit untuk pengisian pos militer seperti Koramil, Kodam, Kodim, Korem dan juga menyiapkan satgas di sana.
Hal itu tetap harus dilakukan, karena masih ada kekurangan, khususnya pangkalan-pangkalan Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU) yang masih banyak kekosongan.
“Jadi penambahan prajurit di sana bukan berarti otomatis itu hanya penebalan pasukan untuk memerangi rakyat, tetapi memang kebutuhan itu masih banyak yang kosong,” imbuhnya.
Dave menambahkan, semestinya bukan hanya penempatan personel, tapi juga harus memanfaatkan teknologi yang sekarang dimiliki di Papua.
Seperti misalnya dengan memanfaatkan drone yang teknologinya pada hari ini kian canggih. Banyak juga drone hasil karya anak bangsa dengan berbagai kemampuan, termasuk senjata.
“Itulah yang kita harus kembangkan sehingga untuk mengatasi kekosongan peralatan tempur. Kita harus meningkatkan kemampuan SDM, dan harus berani investasi juga di research and development,” pungkasnya. (jpg)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: