Manfaat Sosial dan Ekonomi di Balik Berburu Takjil Ramadhan Menjelang Magrib

Sabtu 28-02-2026,07:00 WIB
Reporter : Denden Rusyadi
Editor : Denden Rusyadi

RADARTASIK.COM - Dalam satu jam sebelum azan Magrib, suasana kota berubah drastis dan tradisi berburu takjil Ramadhan menjelma menjadi momen paling dinanti setiap sore.

Jalan yang biasanya lengang mendadak padat oleh warga yang berjalan kaki, berhenti sebentar, lalu berpindah ke lapak berikutnya.

Aroma gorengan hangat dan kolak manis bercampur di udara, menciptakan suasana khas yang hanya hadir selama bulan suci.

Dari sudut pandang sosial, aktivitas ini bukan sekadar membeli makanan, tetapi menjadi ruang pertemuan antarwarga.

Orang-orang saling menyapa, menawar dengan ramah, dan berbagi cerita ringan sebelum waktu berbuka tiba.

Kegiatan sederhana ini tumbuh dari kebiasaan ngabuburit masyarakat Indonesia yang mengisi waktu sore dengan berjalan santai menunggu azan. 

BACA JUGA:Menjelang Magrib di Istanbul: Cerita Hangat Menyusuri Suasana Ramadhan dari Kadıköy hingga Hagia Sophia

Seiring waktu, kebiasaan tersebut memunculkan fenomena pasar takjil dadakan di berbagai sudut kota dan desa.

Lapak-lapak bermunculan di tepi jalan, halaman ruko, hingga area parkir yang strategis.

Meskipun hanya berlangsung singkat, perputaran uang dalam waktu terbatas itu terbilang besar.

Banyak pedagang musiman memanfaatkan Ramadhan sebagai peluang untuk menambah penghasilan keluarga.

Momentum ini menghadirkan dampak ekonomi lokal saat Ramadhan yang terasa nyata bagi pelaku usaha kecil.

Bahkan bagi sebagian warga, bulan suci menjadi periode paling produktif dalam setahun. 

BACA JUGA:6 Spot Ngabuburit Paling Hits di Bandung 2026, Takjil Melimpah & City Light Memukau!

Dari sisi perilaku konsumen, rasa lapar sering membuat orang membeli lebih banyak dari rencana awal.

Kategori :