RADARTASIK.COM - Puasa Ramadhan membentuk karakter manusia dengan cara yang tidak selalu terlihat, namun terasa kuat dalam perubahan sikap, pengendalian diri, dan kesadaran akan posisi kita sebagai hamba Allah SWT.
Bulan suci ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum untuk membuka kembali dialog batin yang lama terabaikan antara manusia dan Tuhannya.
Ketika setan-setan dibelenggu dan pintu rahmat dibuka, umat Islam diajak menyelami rahasia spiritual bulan Ramadhan yang bekerja dalam keheningan jiwa.
Dalam sebuah kisah tentang penciptaan nafs, digambarkan bagaimana ego manusia pada awalnya penuh keakuan dan merasa mandiri tanpa bergantung kepada Allah.
Keangkuhan itu tidak luluh oleh api, tetapi justru melemah saat diuji dengan rasa lapar yang panjang dan melelahkan.
Dari sanalah tersingkap pelajaran bahwa kelemahan fisik dapat menjadi jalan lahirnya kerendahan hati dan pengakuan tulus sebagai hamba.
BACA JUGA:Jangan Kendur di Tengah Jalan! Ini Keistimewaan 10 Hari Kedua Ramadhan yang Sering Terlewat
Puasa kemudian dipahami bukan hanya menahan makan dan minum, melainkan pendidikan jiwa melalui puasa yang melatih kesabaran dan ketundukan.
Saat makanan tersedia namun waktu berbuka belum tiba, manusia belajar bahwa ia tidak sepenuhnya berkuasa atas apa yang ada di hadapannya.
Kesadaran ini menumbuhkan makna syukur dan penghambaan yang lebih jernih, karena setiap nikmat disadari berasal dari Allah semata.
Tanpa kesadaran tersebut, rasa terima kasih bisa saja berhenti pada perantara dan melupakan Sang Pemberi rezeki.
Ramadhan juga menjadi ruang latihan empati, ketika orang yang berkecukupan merasakan lapar yang biasa dialami saudara-saudaranya yang kurang mampu.
Dari pengalaman sederhana itu tumbuh kepedulian sosial yang lebih tulus dan bertanggung jawab.
BACA JUGA:Tiga Fase Ramadhan yang Wajib Diketahui Seorang Muslim Agar Lebih Semangat dalam Melaksanakan Ibadah
Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa di awal Ramadhan pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup sebagai simbol besarnya kesempatan ampunan.