RADARTASIK.COM - Asupan nutrisi dan hidrasi untuk atlet saat puasa Ramadhan bukan sekadar soal makan dan minum, melainkan strategi agar performa tetap stabil meski tubuh beradaptasi dengan ritme baru.
Bagi atlet, Ramadhan adalah fase penyesuaian karena pola makan, jam tidur, dan jadwal latihan berubah cukup drastis.
Meski demikian, kebutuhan energi dan cairan harian sebenarnya tidak ikut berkurang sehingga pengelolaannya harus lebih terencana.
Kunci utamanya ada pada pemilihan jenis makanan, dan evaluasi respons tubuh setiap hari.
Pendekatan ini membantu atlet tetap kompetitif tanpa mengorbankan kesehatan selama berpuasa.
Dengan strategi yang tepat, puasa justru bisa melatih disiplin dan manajemen fisik secara lebih matang.
BACA JUGA:Jangan Banyak Rebahan Selama Ramadhan, Ini 5 Olahraga Ringan yang Aman dan Nyaman Saat Puasa
Salah satu tantangan terbesar adalah kebutuhan cairan atlet saat Ramadhan yang harus dipenuhi dalam waktu terbatas antara berbuka hingga sahur.
Atlet dianjurkan mengganti setiap cairan yang hilang setelah latihan dengan sekitar 1,5 liter air minum.
Pemantauan warna urin di pagi hari dapat menjadi indikator sederhana untuk memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik.
Selain air putih, minuman elektrolit dapat membantu mengganti garam yang hilang akibat keringat berlebih.
Strategi tambahan seperti menghindari latihan di bawah terik matahari juga efektif menekan risiko dehidrasi.
Pendinginan tubuh setelah latihan, termasuk mandi air sejuk, dapat membantu menjaga keseimbangan suhu tubuh.
BACA JUGA:Berolahraga Saat Puasa Ramadhan: Simak Tips Aman Agar Badan Tetap Bugar Tanpa Lemas
Dalam hal nutrisi, aturan makan sahur untuk atlet perlu difokuskan pada karbohidrat kompleks dan protein berkualitas.