3. Ular Tangga menghadirkan kejutan berupa tangga yang mempercepat posisi serta ular yang dapat menggagalkan kemenangan.
4. Monopoli memperkenalkan konsep kepemilikan dan negosiasi melalui transaksi properti yang berlangsung dinamis.
Keberagaman aktivitas tersebut menunjukkan betapa kayanya jenis permainan tradisional anak-anak yang berkembang di tengah masyarakat.
Selain memberi hiburan, setiap permainan menyimpan unsur latihan berhitung, membaca peluang, hingga membangun komunikasi.
Anak-anak belajar mematuhi aturan, menunggu giliran, serta menghargai pemain lain dalam suasana yang menyenangkan.
BACA JUGA:Menyiapkan Jurnal Ramadhan Anak agar Puasa Lebih Berkesan, Panduan Praktis bagi Orang Tua
Dalam konteks inilah permainan tradisional yang sering dijumpai ketika ramadhan memiliki fungsi sosial yang jauh melampaui sekadar pengisi waktu.
Tradisi tersebut menciptakan kenangan kolektif yang mempererat hubungan pertemanan sejak usia dini.
Pada akhirnya, keberadaan permainan tradisional selama bulan puasa menjadi jembatan antara nilai budaya dan kebutuhan rekreasi keluarga.
Keterlibatan lintas usia menghadirkan proses belajar yang alami tanpa tekanan maupun tuntutan akademik.
Orang tua pun dapat memanfaatkan momen ini untuk menanamkan etika, sportivitas, dan semangat kebersamaan.
Suasana rumah terasa lebih hidup karena interaksi terjadi secara langsung, bukan melalui layar gawai.
Dengan menjaga tradisi bermain bersama, masyarakat turut merawat identitas budaya di tengah derasnya modernisasi.